212 Mart Ambruk Karena Mengandalkan Sentimen Kristen-Tionghoa

92

Jakarta, CSW – Masih ingat nggak sama nama 212 Mart? Itu loh merek minimarket Koperasi Syariah 212. Pertama kali diluncurkan 5 tahun lalu, tapi sudah puluhan 212 Mart bertumbangan.

Memang sih di sejumlah tempat masih ada 212 Mart yang bertahan. Tapi kalau dibandingkan dengan cita-citanya semula sebagai pesaing AlfaMart dan Indomaret, kehadiran 212 Mart sekarang ini jauh dari harapan.

212 Mart bisa disebut sebagai upaya kolektif untuk memobilisasi dana umat Islam. Pendanaannya dilakukan dengan mengajak masyarakat untuk sama-sama menjadi investor. Semacam crowd funding.

Yang diandalkan adalah semangat persaudaraan muslim. Narasi yang dikembangkan adalah 212 Mart didanai oleh umat, milik umat, oleh umat, dan untuk umat Islam. Sebagai toko muslim, 212 Mart memiliki sejumlah ciri khas.

Minuman beralkohol, rokok, kondom dan sejumlah produk yang dianggap tidak halal lainnya dilarang di jual di sana. Toko-toko ini juga menjadi tempat penjualan produk-produk UMKM di sekitarnya.

Jadi sistemnya titip jual. Ada pula ciri khas lainnya. Setiap masuk waktu sholat, toko harus tutup selama 15 menit. Pokoknya Islami banget. Berdirinya 212 Mart sendiri tidak bisa lepas dari keramaian Pilgub DKI di tahun 2016-2017.

Kalau Anda masih ingat waktu itu ada Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI yang menuntut penangkapan Gubernur Ahok. GNPF MUI inilah yang menggagas pembentukan Koperasi Syariah 212, yang melahirkan 212 Mart.

212 Mart dideklarasikan oleh tokoh-tokoh Islam seperti Ma’ruf Amin, Bachtiar Nasir, dan Didin Hafhiduddin. Pada awalnya, terlihat antusiasmenya yang tinggi. Dikabarkan, pada pada 2018 sudah terdapat lebih dari 120 gerai 212 Mart.

Tapi, 212 Mart kini berguguran. Alasan utamanya adalah para konsumen tidak melihatnya sebagai tempat belanja alternative yang layak. Produk yang dijual sangat terbatas. Harganya pun tidak bersaing.

Apa yang sebenarnya terjadi? Masalahnya, 212 Mart dikembangkan dengan semangat muslim pribumi versus Kristen Tionghoa. Jadi mereka berusaha melawan Indomaret dan AlfaMart dengan ‘mindset’ melawan dominasi pengusaha Kristen Tionghoa.

Karena itu perlawanannya tidak dilakukan dengan hitung-hitungan yang rasional. Semula ada harapan bahwa umat Islam akan memilih belanja di tempat usaha bersemangat islam daripada belanja di jaringan Indomaret dan Alfamart.

Itu yang sama sekali tidak terjadi. Mayoritas umat Islam di Indonesia tidak berpikiran sempit seperti itu.

Umat islam tidak melihat Indomaret dan AlfaMart sebagai musuh yang harus dihindari.

Bahkan mereka yang sudah menanamkan uang di 212 Mart pun ternyata tidak berbelanja di 212 Mart. 212 Mart berusaha mengalahkan Indomaret dan Alfamart, tanpa sumber daya dan strategi yang cukup.

Indomaret dan Alfamart adalah dua raksasa yang sudah memiliki sistem mapan. Pemiliknya dua pengusaha yang masuk dalam ketegori orang terkaya di Indonesia. Perusahaan induk Indomaret, DNET, tergabung dalam Grup Salim, yang dimiliki Anthony Salim.

Sementara Alfamart dimiliki Djoko Susanto. Mereka sudah mengembangkan bisnis minimarket sejak lebih dari 30-40 tahun lalu. Indomaret berdiri pada 1988, sementara Alfamaret pada 1999.

Indomaret kini sudah memiliki sekitar 20 ribu gerai di seluruh Indonesia. Pengembangan gerai Indomaret dan Alfamart dilakukan dengan sistem franchise. Siapapun dengan sumberdaya tertentu bisa memperoleh franchise Indomaret dengan sistem bagi hasil.

Barang-barang yang dijual di Indomaret datang dari 39 pusat distribusi Indomaret yang menyediakan lebih dari 5000 jenis produk. Dalam hal ini berlaku prinsip skala ekonomi biasa.

Karena penjualan barang berskala luas, harga pun bisa ditekan lebih murah. Kedua raksasa itu membeli barang kebutuhan konsumen dari distributor besar atau langsung dari pabriknya, dalam skala besar.

Indomaret bahkan bisa menggunakan brandnya sendiri. Karena itu harganya pasti jauh lebih murah dari 212 Mart yang tidak memiliki hubungan khusus dengan distributor dan produsen.

Kini kedua raksasa itu juga memberikan pelayanan tambahan bagi konsumen. Keduanya memberi layanan pengisian pulsa, pengisian uang elektornik, loket pembayaran tagihan, loket pengiriman, tempat ATM dan sebagainya.

Ini yang menyebabkan Indomaret dan Alfamaret menjadi tempat belanja favorit bagi masyarakat. Dan kompetitor yang terancam oleh kedua mart itu bukan hanya pemain kecil. Indomaret dan Alfamaret juga sulit disaingi pemain ritel besar seperti Carrefour, Giant dan Hero.

Apalagi minimarket kecil seperti Bright Mart atau Ceriamart. Karena itu, kalau 212 Mart hanya mengandalkan sentiment agama, sulit membayangkan mereka akan bisa bersaing. Apalagi kalau kemudian tersiar pula kabar negative tentang 212 Mart.

Koperasi Syariah 212 Mart di Samarinda, Kalimantan Timur, terbukti melakukan penipuan dan penggelapan dana. Uang anggota koperasi yang digelapkan mencapai angka Rp 2 Miliar.

Pada 2018, sekitar 600 warga muslim Samarinda ramai-ramai, dengan niat ikhlas, menginvestasikan uang untuk 212 Mart di daerahnya. Minimal Rp 500 ribu, maksimal Rp 20 juta. Di Samarinda, dibangun 3 cabang 212 Mart.

Masalah mulai tercium ketika di akhir Oktober 2021, terdengar bahwa karyawan di sana tidak lagi digaji dan supplier barang dari UMKM tidak terbayar. Tagihan sewa ruko, listrik dan PDAM menunggak.

Para pengelola bukan saja tidak memberi laporan keuangan, tapi juga menghilang satu per satu. Sekarang kasusnya sudah selesai di pengadilan. Hakim memvonis hukuman 3 tahun penjara buat tiga pengurus koperasi syariah tersebut.

212 Mart memang salah sejak awal. Kalau saja, mereka benar-benar hendak mengembangkan usaha kecil dan menengah secara professional, ceritanya mungkin lain. Kesalahan utama mereka adalah mereka hanya mengandalkan semangat agama, dan itu sama sekali tidak cukup.