Bahar Smith Jauh Berbeda dari Denny Siregar

-

Jakarta, CSW – Gara-gara Bahar Smith ditahan, aktivis demokrasi sahabat kami Mas Denny Siregar menjadi sasaran tembak. Muncul suara-suara yang mempertanyakan mengapa Bahar Smith ditahan sementara Denny dibiarkan bebas. Dan yang mempertanyakan ini bukan cuma kuasa hukum Bahar. Yang juga mempersoalkan Mas Denny adalah Indonesian Police Watch (IPW)

IPW menuduh polisi tebang pilih. Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso mengatakan, polisi seperti hanya tegas kepada pihak yang dianggap oposisi, sementara mereka yang mendukung pemerintah seolah kebal hukum. Menurut Sugeng, polisi harus menunjukkan sikap professional dan adil.

Sugeng mempertanyakan mengapa Bahar langsung ditahan, sementara Denny Siregar walau sudah dilaporkan dua tahun yang lalu, masih tetap tidak jelas perkembangan kasusnya. Tuduhan IPW ini jelas membuat kita layak prihatin. Kasus Bahar dan Denny Siregar sama sekali berbeda.

Bahar sejak keluar dari penjara, sudah berulangkali menyebarkan kebohongan dan kebencian. Salah satu yang paling parah adalah ceramahnya yang diunggah di youtube pada 19 Desember lalu. Video itu diunggah di channel youtube Qolbu Aswaja. Bahar dalam video itu membahas tentang terbunuhnya enam anggota laskar FPI yang baku tembak di Jalan Tol Km 50 Jakarta Cikampek, Desember 2020. Bahar menggambarkan pembunuhan 6 laskar FPI itu sangat tidak manusiawi.

Bahar menuduh sebelum dibunuh, para anggota laskar itu disiksa. Menurut Bahar para anggota FPI itu dianiaya, kukunya dicopot, badannya disetrika dan jantungnya ditembak dari jarak dekat. Bahar juga membangun cerita bahwa para laskar FPI itu adalah orang-orang yang rela mengorbankan nyawa untuk melindungi Rizieq Shihab yang sedang bergembira merayakan maulid. Bahar kemudian mengajar para pengikutnya melawan penguasa yang melakukan kezaliman dan kemunkaran.

Ini jelas adalah penyebaran kebohongan dan penyebaran kebencian yang membahayakan kita semua. Persidangan kasus terbunuhnya enam laskar FPI itu memang masih berjalan. Tapi semua penyelidikan indepeden Ham sudah menunjukkan tidak ada penyiksaan seperti yang digambarkan Bahar. Laskar FPI menyerang polisi lebih dulu.

Polisi membalas. Terjadi adu tembak yang menewaskan dua anggota polisi. Belakangan empat anggota FPI yang sudah di bawah kendali berbalik menyerang dan mengancam nyawa polisi. Dan karena itulah mereka ditembah dalam jarak dekat. Tidak ada cerita soal penyiksaan yang keji itu. Demikian juga, laskar FPI itu bukan sedang melindungi Rizieq yang sedang merayakan maulid.

Polisi yang akhirnya menembak anggota FPI itu sebenarnya hanya sedang bertugas menjaga keberadaan Rizieq. Mereka diserang, mobil mereka ditabrak, ditembak, dan karena itulah polisi membalas. Jadi jelas Bahar sedang memprovokasi umat Islam untuk memberontak. Karena itu sangat mengherankan kalau IPW sekarang menuduh polisi seolah tidak professional. Sebagai sebuah lembaga masyarakat sipil yang secara khusus mengawasi kinerja polisi, mereka seharusnya lebih objektif dan kritis.

IPW menganggap polisi tidak professional karena langsung menahan Bahar dan membiarkan Denny hidup bebas. Padahal penahanan Bahar dilakukan secara berhat-hati. Video Bahar itu sudah diunggah pada 19 Desember. Diduga, ceramah aslinya berlangsung pada 11 Desember. Jadi polisi sudah mempelajari kasus ini setidaknya dua minggu sebelum akhirnya Bahar ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan. Selain Bahar, polisi menetapkan TR sebagai tersangka.

TR ditahan karena dituduh sebagai penyebar informasi kebencian melalui kanal Youtube tersebut. Penetapan tersangka terhadap keduanya pun dilakukan setelah penyidik memeriksa 33 orang saksi dan 19 saksi ahli. Polisi juga menyita 12 item barang bukti. Jadi penahanan Bahar tidak dilakukan dengan terburu-buru.

Polisi juga punya alasan kuat untuk menahan Bahar. Bahar ditahan karena dikhawatirkan mengulangi tindak pidana, Bahar juga dikhawatirkan melarikan diri dan menghilangkan barang bukti, kalau berada di luar penjara. Ini bukan alasan mengada-ada. Kalau masih berada di ruang bebas, Bahar mungkin sekali kembali menyebarkan ujaran kebencian serupa. Dia bahkan mungkin melarikan diri. Jadi penahanan Bahar memiliki alasan kuat.

Ini beda sekali dengan kasus Denny Siregar. Denny memang dilaporkan karena dianggap menyebarkan kebencian. Tapi kasusnya sangat berbeda dari Bahar. Denny memposting sebuah tulisan yang justru mengeritik para orang tua dan guru yang mengajarkan kebencian pada anak-anak mereka. Denny memposting tulisan itu di FB, pada 27 Juni 2020.

Judulnya: “Adek2ku Calon Teroris yang Abang Sayang.” Di status itu ada foto ilustrasi sejumlah santri dari sebuah pesantren di Tasikmalaya. Para santri kecil itu terlihat sedang bersiap mengikuti aksi politik, lengkap dengan symbol-simbol keagamaan. Dan karena foto itulah, Denny kemudian dilaporkan karena dituduh menyamakan santri dengan teroris.

Itu tuduhan yang mengada-ada. Siapapun yang membaca isi postingan mas Denny akan tahu bahwa ia tidak sedang memfitnah dan menyebarkan kebencian pada para santri itu. dalam tulisan itu mas denny mengecam para orangtua yang merusak masa kecil anak-anak mereka dengan doktrin-doktrin keagamaan sempit. Akibat proses itu, anak-anak tersebut kehilangan kebahagiaan bsia bermain bebas dengan teman-teman yang datang dari beragam latar belakang yang berbeda.

Mas Denny kemudian menyatakan kesedihannya melihat anak-anak yang dijadikan oleh para pemuka agama dan orangtua sebagai mesin penghancur, eksklusif, fanatik, modoh dan tidak mudah bergaul. Mas Denny menggambarkan anak-anak itu sebagai korban kebodohan orangtua mereka. Mas Denny khawatir kalau dibiarkan, anak-anak itu kan tumbuh menjadi kaum fanatic yang akan menghancurkan Indonesia.

Di akhir postingannya mas Denny menulis: “Cium sayang abang untukmu dek. Abang doakan kalian ketika dewasa, melawan semua doktrin yang sekarang dipaksakan kepada kalian.” Itulah yang ditulis Denny. Karena itulah seperti tadi dikatakan kasus Bahar sama sekali tidak dapat disamakan dengan kasus mas Denny. Bahar berbohong, memfitnah, menyebarkan kebencian. Denny justru mendorong orangtua untuk tidak mengajarkan kebencian. Mudah-mudahan IPW dan pihak-pihak lain yang membela Bahar mau mengakuinya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru

Misi Kemanusiaan Gereja Di Cianjur Kok Dituduh Kristenisasi

Jakarta, CSW - Ada berita memprihatinkan nih dari Cianjur. Daerah ini kan baru saja kena gempa yang menewaskan sekitar...

Muhammadiyah: Kekuatan Pro Atau Anti Radikalisme?

Jakarta, CSW - Di awal video ini, saya mewakili Civil Society Watch, ingin menyampaikan selamat kepada Muhammadiyah. Muhammadiyah baru...

Tempo Bilang KTT G20 Gagal, Media Asing Bilang KTT G20 Berhasil

Jakarta, CSW - Mengejutkan yaa. Cara majalah Tempo menggambarkan KTT G20 ini menurut saya. Apalagi kalau dibandingkan dengan pemberitaan...

Ketika Amoi Singkawang Difitnah Pekerja Seks Komersial

Jakarta, CSW - Kali ini saya akan bicara tentang Singkawang dan bagaimana media memberitakannya secara tidak akurat sampai merugikan...
spot_imgspot_img

Green Peace Batal Bikin Aksi di KTT G20 Bali

Jakarta, CSW - Ada kabar LSM Greenpeace Indonesia batal bikin kampanye di Bali pada saat Konferensi Tingkat Tinggi atau...

Kenapa Sih Indonesia Harus Beralih Ke Siaran TV Digital?

Jakarta, CSW - Seperti biasa kalo ada kebijakan baru pasti ada aja yang ribuut. Nah sekarang kita lagi mau...

Bacaan Menarik

Misi Kemanusiaan Gereja Di Cianjur Kok Dituduh Kristenisasi

Jakarta, CSW - Ada berita memprihatinkan nih dari Cianjur....

Muhammadiyah: Kekuatan Pro Atau Anti Radikalisme?

Jakarta, CSW - Di awal video ini, saya mewakili...

Civil Society Watch

Anda bisa kirimkan aduan Anda di sini