Konsolidasi Buzzer Anies Baswedan Yang Tak Mau Disebut Buzzer

138

Jakarta, CSW – Sekarang Tim buzzer Anies Baswedan lagi  sibuk konsolidasi dan berkolaborasi. Konsolidasi tim buzzer Anies dianggap penting. karena pertarungan merebut suara publik di media online dan medsos.

Emang sih Anies sudah dideklarasikan sebagai bakal capres oleh partai Nasdem. Tapi, untuk Anies sah jadi capres, suara Nasdem belum cukup. Anies masih butuh suara partai-partai lain untuk memenuhi presidential threshold.

Sekarang  Anies menggebu-gebu menggalang opini publik, karena waktu terus berjalan mendekati Pilpres 2024. Konsolidasi tim buzzer Anies bocor ke publik karena keteledoran Musni Umar.

Mantan Rektor Universitas Ibnu Chaldun keceplosan cerita di akun twitternya. Dia menuliskan, dirinya bertemu dengan tim buzzer Anies. Di cuitan 22 Oktober, ia bilang , siang sampai sore hari ada latihan Relawan Digital Anies Baswedan.

Latihan diadakan di Hotel Oasis, Senen, Jakarta. Musni diundang Dr Sulhan untuk hadir latihan sekaligus kasih sambutan. Kemudian, di cuitan 29 Oktober, Musni melaporkan hal lainnya.

ia dan Dr Sulhan memfasilitasi pertemuan Tim Medsos Anies dengan Relawan Digital Anies. Tujuan pertemuannya adalah untuk kolaborasi. Ternyata baru-baru ini cuitan Musni tanggal 29 Oktober dihapus. Tapi bukti screenshot cuitan sudah terlanjur netizen tau.

Kenapa dihapus? Jelas, karena cuitannya akan menjadi bumerang dan bisa mempermalukan. Pertama, ini bukti bahwa Musni Umar menjadi fasilitator tim buzzer Anies. Kedua, ini bukti bahwa Anies juga secara serius memelihara tim buzzer.

Lucunya, kubu pendukung Anies sering berlagak suci. Mereka sering menghina netizen yang membela posisi pemerintah sebagai buzzerRp. Netizen yang kritis pada Anies dikutuk, seolah pasti masuk neraka.

Sedangkan buzzer yang membela Anies diberi julukan yang positif atau netral. Seperti: tim medsos dan relawan digital. Mereka menolak disebut buzzer. Padahal perilaku dan aktivitasnya ya persis seperti buzzer biasa.

Mereka menyerang lawan-lawan politik Anies dengan keras. Mereka nggak segan memainkan hoaks dan plintiran informasi. Tapi mereka lihay main kata-kata, untuk tampil suci tanpa cela.

Sekarang karena cuitan Musni, kita tahu Buzzer Anies itu nyata adanya. Malah mereka pake pelatihan segala. Tujuannya, tentu aktivitas buzzer-nya efektif. Mereka akan memulas habis citra Anies di mata publik, agar jalan Anies menuju Pilpres 2024 lancar jaya.

Pelatihannya di hotel loh, pasti tim buzzer dan medsos ini ada dananya. Mereka bukan aktivis sukarelawan biasa, yang kerja gratisan. Pemanfaatan buzzer oleh Anies sebenarnya bukan baru sekarang saja.

Setahun lalu, November 2021, Anies memiliki tim buzzer lain. Sekarang  cukup istimewa karena pakai embel-embel agama. Tim buzzer ini dibentuk oleh Majelis Ulama Indonesia atau MUI DKI Jakarta.

Sebelum tim buzzer dibentuk, MUI DKI diberi dana hibah oleh Pemprov DKI. Hibahnya sangat besar, nilainya Rp 10,6 miliar. Buzzer bentukan MUI DKI diberi nama Cyber Army. Namanya keren, tetapi kerjanya ya seperti buzzer biasa.

Ketua Umum MUI DKI Jakarta, Munahar Muchtar, membela pembentukan buzzer itu. Munahar bilang, pembentukan Cyber Army adalah gagasan MUI DKI. Cyber Army dibentuk untuk melawan buzzer yang menyerang ulama.

Juga, untuk membela Gubernur DKI Anies Baswedan. Munahar berdalih, Cyber Army dibentuk karena maraknya informasi hoaks. Hoaks itu dapat memecah belah umat, terutama umat Islam dan ulama.

Munahar mengklaim, pihaknya nggak akan memakai dana hibah Pemprov untuk pasukan siber. Menurutnya, dana hibah itu akan digunakan untuk program kerja. Dan, untuk kegiatan operasional MUI DKI.

Tapi Wakil Sekjen PKB, Luqman Hakim, nggak percaya. Ia menuding, MUI DKI membentuk pasukan siber untuk membela Anies. Ini pasti nggak lepas dari hibah Pemprov DKI yang nilainya Rp 10,6 miliar itu.

Luqman menyayangkan merosotnya status lembaga MUI DKI Jakarta. MUI DKI telah menjadi subordinat kepentingan politik perorangan, kata Luqman. Dengan terungkapnya konsolidasi buzzer ini, kubu Anies sebaiknya terus terang saja.

Tidak usah mengklaim diri paling benar atau paling suci. Kita nggak bisa melarang Anies membentuk tim buzzer. Tetapi, buzzer tetap harus dikontrol, agar tidak menyebar hoaks.