Sentimen Anti Cina Menyebabkan Konflik Berdarah Di Morowali

19

Jakarta, PIS – Kita semua prihatin dengan apa yang terjadi di Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Pada 14 Januari, di area smelter pengolahan nikel PT GNI baru saja terjadi konflik berdarah yang memakan korban tiga jiwa pekerja.

Terjadi penjarahan mess karyawan putri, pembakaran bangunan aset perusahaan, dan termasuk 9 mobil perusahaan. Konflik berlangsung antara tenaga kerja lokal dan asing. Dikabarkan, dua tenaga kerja lokal dan satu tenaga kerja asing asal China tewas.

Ketegangan sih masih terasa, walaupun sudah berangsur pulih. Kelihatannya, ada kelompok-kelompok jahat yang sengaja ingin menimbulkan kerusuhan di smelter nikel. Kalau kita ikuti kronologinya, ada yang janggal dalam kerusuhan ini.

Jadi gini, konflik bermula dari aksi mogok kerja yang dilakukan para pekerja lokal yang tergabung dalam Serikat Pekerja Nasional (SPN). Mereka punya sejumlah tuntutan terhadap PT GNI, terutama terkait kesehatan dan keselamatan kerja.

Ini terjadi karena sudah dua korban tewas di smelter akibat buruknya perlindungan keselamatan kerja. Proses mediasi antara direksi GNI dan SPN oleh Kantor Dinas Ketenagakerjaan Morowali Utara berlangsungnya alot banget.

Tapi sebenarnya pada 13 Januari, dari 8 tuntutan pekerja, hampir semua sudah dikabulkan GNI. Bukan cuma soal kesehatan dan keselamatan kerja, tapi juga soal outsourcing, hak pekerja dan lainnya.

Tinggal satu yang belum bisa disetujui, yaitu tuntutan agar perusahaan mempekerjakan kembali karyawan yang sebelumnya diberhentikan karena terlibat dalam aksi mogok. Tuntutan terakhir ini belum dipenuhi karena perusahaan masih menunggu hasil mediasi lanjutan pada 16 Januari.

Entah bagaimana, seusai mediasi, kondisi memburuk. Para pekerja Serikat Pekerja Nasional melakukan sweeping. Tapi para pekerja Cina menolak ikut mogok. Ini bisa dimaklumi karena mereka memang tidak punya tradisi mogok kerja.

Memang sempat terjadi cekcok mulut. Tapi keadaan memburuk ketika kemudian menyebar hoaks bahwa pekerja Cina menyerang pekerja lokal. Berita bohong ini menyebar luas yang menimbulkan kemarahan sehingga adu fisik pun terjadi.

Konfliknya jadi melebar ke mana-mana dan pemerintah sudah merepsons dengan serius. Menkopolhukam Mahfud MD sudah mengutus tim untuk menangani kasus ini. Lebih dari 70 orang sudah ditahan terkait konflik.

Sudah ada 17 pekerja yang dtetapkan sebagai tersangka. Dikabarkan, smelter GNI sudah kembali beroperasi. Tapi ketegangan masih terasa. Dan semua pihak harus berhati-hati, karena kelihatannya masih ada kelompok-kelompok yang memanas-manasi situasi ini.

Sekarang pun di berbagai media sosial berkembang narasi kalau para tenaga kerja Cina menindas kaum pekerja lokal. Padahal, seperti tadi dikatakan akar masalahnya sama sekali tidak berkaitan dengan TKA Cina.

Tuntutan para pekerja sebetulnya kan biasa-biasa saja. Mereka mempersoalkan keselamatan kerja. Contohnya, perusahaan hanya memberi helm buat pekerja, tapi tidak sepatu kerja.

Banyak yang bekerja hanya dengan menggunakan sandal. Padahal membahayakan keselamatan. Sirkulasi udara di dalam smelter pun dianggap buruk. Pekerja juga menuntut perusahaan tidak lagi menjalankan outsourcing pekerja alias pekerja kontrak yang cuma tiga bulan dan enam bulan.

Ada juga soal pemotongan upah dan tunjangan keahilan pekerja yang dianggap tidak adil. Atau soal surat sakit dari luar perusahaan yang tidak diakui. Jadi tuntutan-tuntutannya sangat normal dan tidak ada sama sekali hubungannya dengan tenaga kerja China.

Dan itu pun mediasinya hampir final. Tapi, kenapa bisa sampai berkembang menjadi konflik ras semacam ini? Ya, sangat mungkin karena memang ada yang ingin merusak industri nikel Indonesia.

Apa yang terjadi GNI ini bisa jadi adalah sekadar puncak gunung es. Indonesia saat ini sedang serius membangkitkan industri nikel. Indonesia memang kaya dengan nikel. Indonesia memiliki 30% cadangan nikel dunia, sebesar 21 juta ton.

Pasar terbesar nikel Indonesia selama ini adalah Eropa dan China. Tapi selama bertahun-tahun Indonesia nggak bisa mendapat keuntungan yang optimal. Ini karena sebelumnya Indonesia hanya menjual nikel dalam versi mentah.

Untuk menjaga nilai tambah, pemerintah melarang ekspor nikel mentah mulai tahun 2020. Jadi biji nikelnya harus diolah dulu di smelter, dan baru kemudian diekspor sebagai nikel olahan.

Biji nikel yang sudah diolah harganya jauh lebih tinggi dari versi mentahnya. Sebagai contoh, data menunjukkan sebelum Indonesia punya smelter, nilai ekspor nikel kita baru mencapai 19-20 triliun Rupiah.

Tapi pada 2021, setelah kita punya smelter pengolah nikel mentah, nilai ekspor nikel kita naik menjadi 300 triliun rupiah. Itu kan kenaikan yang luar biasa.

Tapi, untuk bisa jualan nikel yang sudah diolah, diperlukan sarana smelter.

Masalahnya, Indonesia nggak punya dana, teknologi, keahlian dan sumber daya yang diperlukan bagi pengembangan smelter. Inilah yang direspons Cina. Perusahaan-perusahaan Cina datang berinvestasi dan mengembangkan smelter di Indonesia.

Saat ini Cina masih membawa para pekerja dari negara mereka, karena persoalan kecakapan dan kualitas kerja. Mereka nggak mungkin langsung menyerap tenaga kerja lokal, karena pekerja di Indonesia nggak punya keahlian dan kemampuan yang dibutuhkan.

Tapi, perusahaan yang masuk ke Indonesia itu wajib melakukan transfer teknologi dan pengetahuan. Yang dimana diharapkan, ke depan Indonesia bisa mengembangkan sendiri smelter dengan tenaga lokal.

PT GNI di Morowali ini adalah salah satu perusahaan Cina yang mengembangkan smelter di Indonesia. Pemiliknya adalah Jiangsu Delong Nickel Industry. Mereka menanamkan dana 3 miliar dolar di Indonesia.

Kehadiran industri smelter seperti GNI jelas akan menguntungkan Indonesia. Mereka bukan saja bayar pajak dan membuka lapangan kerja, tapi juga mengembangkan keahlian dan kecakapan tenaga kerja Indonesia untuk menguasai teknologi smelter.

Ke depan, Indonesia bisa menjadi kekuatan utama industri nikel dunia. Uni Eropa sudah terlihat panik, dan menuntut Indonesia membatalkan kebijakan pelarangan ekspor nikel mentah.

Tapi lucunya di dalam negeri, serangan juga sudah terjadi. Misalnya saja mantan wakil Menteri BUMN Muhammad Said Didu pernah mengatakan pemerintah Indonesia menjual negara melalui penguasaan Cina atas industri nikel di sini.

Jadi konflik Morowali nampaknya bukan sesuatu yang terjadi karena faktor yang alamiah. Rasanya sih memang ada yang mau memperburuk situasi. Kita harus sama-sama membela Indonesia.