LSM HAM BUNGKAM SOAL PENGANIAYAAN ADE ARMANDO

116

Jakarta, CSW – Aksi demo mahasiswa telah berlangsung di kawasan DPR RI, 11 April lalu. Mereka menolak ide penundaan pemilu dan tiga kali masa jabatan presiden. Namun aksi ini dinodai oleh pengeroyokan dan penganiayaan brutal, yang disertai pelecehan keji terhadap Bang Ade Armando. Massa liar, yang menumpang di aksi mahasiswa, menyerang dan memukuli Bang Ade. Padahal Bang Ade memiliki aspirasi dan pandangan yang sama dengan aktivis mahasiswa. Ade Armando adalah Ketua Pergerakan Indonesia untuk Semua atau PIS. PIS adalah organisasi yang mendorong persatuan dan menghormati keragaman.

Bang Ade juga dosen Ilmu Komunikasi di FISIP Universitas Indonesia. Bang Ade datang bersama tim untuk memberikan dukungan moril bagi mahasiswa yang berdemonstrasi menolak wacana penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden Namun semua itu tidak dianggap penting oleh massa yang beringas dan seperti kesetanan. Mereka memukuli, menendang, dan menginjak-injak tubuh Bang Ade. Jika tidak ditolong dan dilindungi aparat polisi, Bang Ade bisa tewas di jalan. Untunglah di saat kritis, polisi datang.

Tetapi cerita tidak berakhir di situ. Setelah insiden brutal tersebut, sejumlah kalangan civil society yang prihatin melontarkan kecaman keras. Para tokoh masyarakat ramai memberi dukungan moral kepada Ade Armando dan keluarganya. Lembaga Universitas Indonesia, tempat Bang Ade mengajar, juga bersuara keras membela Bang Ade. Penganiayaan massal terhadap warga sipil seperti Bang Ade adalah pelanggaran HAM yang terang benderang. Tidak ada dalih apapun untuk membenarkan aksi kekerasan itu. Penganiayaan ini juga terjadi di bulan puasa, dan mungkin sekali dilakukan oleh orang yang mengaku berpuasa. Padahal, ibadah puasa seharusnya membuat orang menahan diri dari melakukan kekerasan.

Jangankan kekerasan fisik, kekerasan verbal saja sudah terlarang. Indonesia Police Wacth meminta kepolisian menindak pelaku kekerasan tersebut. Sedangkan Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam, mengecam penganiayaan terhadap Ade. Choirul Anam meminta polisi mengusut tuntas, siapa saja pelaku penganiayaan brutal tersebut. Choirul berharap, proses penegakan hukum terhadap para penganiaya itu berjalan transparan dan akuntabel. Untuk tingkat Komnas HAM, pernyataan Choirul adalah standar. Namun, ada yang aneh. Di luar Komnas HAM, ternyata tidak ada LSM HAM lain yang memberi respons atas penganiayaan terhadap Ade itu.

Mereka semua seperti bungkam dan membisu. Tidak ada satupun pernyataan keprihatinan. Tidak ada ucapan yang menyesalkan terjadinya insiden itu, apalagi kecaman. Para aktivis HAM, yang biasa disebut Pejuang Keadilan Sosial atau SJW, juga tak terdengar suaranya. Tidak ada komentar apapun, seolah-olah penganiayaan terhadap Ade dianggap angin lalu. Fenomena aneh itu menimbulkan kegeraman di kalangan warganet. Dede Budhyarto, Pegiat Media Sosial, dalam cuitan twitternya, mempertanyakan sikap Kontras, YLBHI, LBH Jakarta, dan Amnesti Internasional Indonesia. Mengapa belum ada pernyataan sikap yang mengutuk keras tindakan biadab dan tak bermoral itu, tanya Dede, 12 April lalu. Cuitan Dede tersebut memancing reaksi beragam dari warganet.

Sebagian besar mereka mempertanyakan sikap LSM-LSM, yang selama ini dikenal vokal tersebut. Pegiat media sosial Zein Assegaf atau akrab dipanggil Habib Kribo juga mengkritik pedas. Ia mempertanyakan sikap sejumlah Pejuang Keadilan Sosial atau SJW soal penganiayaan Ade Armando. Padahal penganiayaan Ade Armando masuk kategori kekerasan kelas berat dan tidak berperi kemanusiaan, kata Habib Kribo. Sementara pada penganiayaan Ade Armando, kata Habib, SJW sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya membela Ade Armando. Padahal biasanya SJW paling lantang bersuara, jika berurusan dengan isu kemanusiaan dan keadilan sosial.

Habib Kribo menyatakan, YLBHI, Kontras, LBH Jakarta, Amnesty Internasional Indonesia, Prodem, dan kawan-kawan mendadak bisu dan tidak bersuara. Padahal saat itu sudah 17 jam lebih, sejak terjadinya peristiwa penganiayaan biadab di depan gedung DPR. Karena para LSM HAM itu tidak mengatakan apa-apa, kita cuma bisa menebak-nebak alasan di balik sikap bungkam tersebut. Apakah karena Ade Armando dianggap sering berbeda pendapat dengan mereka? Apakah sikap Ade dianggap pro-pemerintah?

Sedangkan mereka sering memposisikan diri sebagai pengkritik pemerintah? Jika perbedaan pandangan ataupun posisi politik memang menjadi penyebab, berarti ada yang tidak beres. Para LSM HAM terlihat pilih kasih dan selektif dalam memperjuangkan HAM. Jika yang jadi korban adalah satu kubu atau satu aspirasi dengan mereka, akan dibela habis-habisan. Tetapi jika si korban berbeda kubu atau aspirasi politik, korban pelanggaran HAM akan dibiarkan saja. LSM HAM tutup mata, seolah-olah pelanggaran HAM itu tidak pernah terjadi. Sikap semacam ini, jika diterapkan konsisten oleh LSM yang mengaku memperjuangkan HAM, akan sangat mengerikan. Berarti perjuangan HAM mereka itu semu, karena bersifat selektif dan pilih kasih. Pembelaan HAM mereka diwarnai soal suka dan tidak suka pada si korban. Wahai, para LSM HAM! Tegakkanlah HAM tanpa pandang bulu!