Hari Anak Nasional Dan Kiprah LSM Peduli Anak

26

Jakarta, CSW – Perayaan Hari Anak Nasional, 23 Juli 2022, sudah berlalu. Namun banyak hal masih harus dilakukan untuk anak-anak Indonesia. Macam-macam permasalahan yang dihadapi anak.

Mulai dari soal kesejahteraan, kesehatan, dan pendidikan. Persoalan anak-anak ini kompleks dan kait-berkait. Karena lemahnya kondisi ekonomi orang tua, banyak anak tidak sejahtera hidupnya.

Makanan yang kurang bergizi dan tak mencukupi, membuat kesehatannya rapuh. Ringkihnya kesehatan menghasilkan daya belajar yang kurang. Meski ada program wajib belajar, banyak anak juga belum mengenyam sekolah normal.

Yang tak kalah penting, anak-anak itu terus bertambah umur. Mereka semakin dewasa, dengan segala permasalahan yang melingkupinya. Jika semua kebutuhan sudah bisa terpenuhi, itu ideal. Tetapi bagaimana dengan anak-anak yang tumbuh tak terurus?

Mereka membutuhkan lingkungan yang sehat untuk tumbuh dan berkembang. Namun lingkungan sekitar tidak menyediakan itu. Salah satu kasusnya adalah anak-anak di Kawasan Rawamangun, Jakarta Timur. Mereka biasa menggelandang hidup di jalanan.

Kita bisa melihat anak-anak itu jika melewati fly over Rawamangun. Anak-anak itu berasal dari keluarga yang telah hidup di sana selama lima generasi. Mereka tinggal di lahan kosong yang dikenal sebagai Tanah Merah.

Anak-anak itu adalah bagian kehidupan 600 Kepala Keluarga di sana. Berasal dari Indramayu, mereka mengalami hidup di tengah lahan sengketa itu. Ini konflik lahan yang sudah turun-temurun.

Keluarga-keluarga ini pun akhirnya tergusur. Lahan tersebut kini menjadi lokasi gedung pemadam kebakaran. Sebagian keluarga itu telah kembali ke kampung asal. Namun sedikit sisanya masih mencoba bertahan. Tampaknya masih ada tertinggal sedikit lahan di sana.

Yakni, di pinggir jalan raya Bypass dan Jalan Pemuda. Di situ berdirilah rumah-rumah tidak layak huni. Rumah-rumah itu ditinggali oleh keluarga bermata pencaharian pemulung. Ini adalah kisah tentang anak-anak dari keluarga pemulung tersebut.

Ini juga kisah tentang LSM yang peduli dan menangani mereka. Nama LSM itu Rumah Belajar Pelangi Nusantara. Berdiri sejak 2010, LSM ini mendampingi anak-anak dari lahan Tanah Merah. Hingga saat ini. Valentina Sastrodihardjo adalah inisiator LSM ini.

Anak-anak lebih akrab memanggilnya Kak Valen. Awalnya Valen adalah mahasiswi Universitas Negeri Jakarta atau UNJ. Sejak masih kuliah, Valen sudah sering melihat anak-anak itu. Lokasi kampus UNJ memang berdekatan dengan lahan Tanah Merah.

Valen merasa trenyuh dan prihatin. Ia tak tega melihat anak-anak yang berkeliaran tak terurus itu. Maka Valen tergerak membuat kegiatan untuk mereka. Lokasi kegiatannya di situ juga, persisnya di bawah jembatan Fly Over. Sampai sekarang ada 160 anak yang bergantian ikut kegiatan.

Mereka berasal dari keluarga yang hidup menggelandang. Tepatnya di sekitar Gedung BPKP dan lapangan Golf Rawamangun. Hidup di jalanan berarti hidup dengan nilai-nilai yang berlaku di jalanan. Ada potensi kekerasan terhadap anak-anak di sana.

Termasuk kekerasan seksual ataupun hubungan seks yang longgar. Atau anak dieksploitasi oleh orang dewasa untuk tujuan komersial. Ini yang menjadi sumber keprihatinan Valen. Tiap minggu ia bertemu dan mendampingi anak-anak itu di bawah Fly Over. Tapi aktivitas Valen tidak sama seperti sekolah formal.

Ia tidak menyampaikan mata pelajaran keilmuan seperti biologi, kimia, dan sebagainya. Namun Valen menebarkan nilai-nilai yang dianggap penting. Agar anak-anak itu lebih siap mengarungi kehidupan. Salah satu nilai yang diajarkan Valen adalah menghargai keberagaman.

Bagaimana anak-anak itu hidup dalam perbedaan dengan yang lain. Saling menghormati perbedaan adalah bagian dari kemanusiaan. Namun yang lebih penting adalah anak-anak itu butuh pendamping. Butuh teman yang bisa mengajak. Agar mereka tidak terjerumus semakin dalam di kehidupan jalanan.

Karena jika sudah terlalu dalam, sulit menarik mereka ke luar dari sana. Karena anak-anak itu merasa, kehidupan jalanan sudah jadi kodratnya. Yang dilakukan Valen dan LSM-nya adalah sebuah proses.

Proses itu butuh meluangkan waktu, ketekunan dan kesabaran. Karena membantu anak-anak itu tidak bisa dilakukan dengan program dadakan. Valen dan kawan-kawannya butuh dukungan kita semua. Ayo kita dukung mereka, untuk kepentingan anak-anak Indonesia.