Jangan Sampai Ada Perang Saudara di Tubuh NU

111
foto dok. Berita Satu

Jakarta, CSW – Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) akan berlangsung pada 23 sampai 25 Desember ini. Walau baru akan dimulai lebih dari satu minggu lagi, suasana panas sudah terasa. Yang menjadi pusat perhatian adalah pertarungan memilih Ketua Umum NU.
Calon kuat pertama adalah Ketua Umum saat ini, Kiai Said Aqil Siradj. Kiai Said sudah menduduki posisi tersebut selama dua periode.

Calon kuat kedua adalah Kiai Yahya Cholil Staquf. Kiai Yahya adalah Katib Aam PBNU. Catatan tambahan yang penting mengenai Kiai Yahya adalah dia kakak kandung dari Menteri Agama saat ini, Yaqut Cholil Qoumas.

Keduanya adalah orang hebat. Dan karena itu pula pertarungan diduga akan berlangsung sangat sengit.

Buat masyarakat Indonesia, perkembangan ini penting. NU adalah organisasi masyarakat sipil terbesar di Indonesia. Dikabarkan jumlah anggotanya mencapai puluhan juta orang.
Kita berharap jangan sampai pertarungan Ketua Umum ini akan memecah NU. Jangan sampai ada perang saudara di tubuh NU. Indonesia membutuhkan NU yang kompak karena NU adalah kekuatan penting di negara ini.

Bisa dibilang, NU adalah salah satu kekuatan utama Islam moderat di Indonesia. Selain Muhammadiyah tentunya. NU menghindari sikap ekstrem dalam beragama. NU mengajarkan sikap toleran, anti radikalisme, dan melawan keras terorisme. NU menjadi ormas tempat mengadu dan berlindung kelompok minoritas yang rentan. NU menunjukkan keberagaman dalam Islam. NU adalah contoh terbaik Islam nusantara.

Ketika terjadi proses Arabisasi dalam Islam Indonesia, NU berada di jajaran terdepan untuk melawannya. Karena itu bila sekarang NU melemah, ini berdampak pada seluruh masyarakat Indonesia.

Menurut perhitungan panitia, Muktamar akan diikuti lebih dari dua ribu peserta resmi. Para peserta inilah yang akan memilih Ketua Umum NU baru.

Hampir pasti keputusan ketua baru dilakukan secara voting. Karena itulah kasak-kusuk untuk mempengaruhi para peserta sudah terjadi jauh-jauh hari. Ketegangan bahkan sudah terjadi saat penentuan tanggal Muktamar.

Kubu pendukung Kiai Said berharap jadwal Muktamar diundur sampai akhir januari. Sementara, kubu pendukung Kiai Yahya bertahan dengan jadwal semula, dan bahkan meminta percepatan.

Konflik ini bahkan sampai menyebabkan adanya gugatan ke Pengadilan Lampung. Pada 7 Desember akhirnya baru diputuskan bahwa Muktamar tetap berlangsung pada 23-25 Desember.

Selain jadwal, ada dua isu besar yang ramai dibicarakan. Pertama adalah soal seberapa jauh pemerintah akan campur tangan. Ini terkait dengan posisi Kiai Yahya. Karena dia adalah kakak Menteri Agama, muncullah kekhawatiran bahwa pemerintah akan campur tangan dalam muktamar dengan mendukungnya.

Bahkan Kiai Said dalam kunjungan silaturahim PBNU ke Transmedia November lalu sempat menyinggung soal itu. Kiai Said menyatakan, ia ingin Muktamar NU berjalan sesuai dengan gaya NU. Ia juga ingin agar ketua umum yang dipilih merupakan pilihan NU sendiri.

Kiai Said menekankan pemerintah agar jangan ikut campur. Menurutnya, jika pemerintah ikut campur, itu akan merusak Muktamar NU.

Kiai Said sendiri tidak menjawab tegas apakah ia melihat adanya campur tangan pemerintah dalam Muktamar NU. Ia hanya menyayangkan seandainya ada campur tangan pemerintah dalam pemilihan Ketua Umum PBNU nanti.

Stafsus Menteri Sekretaris Negara Faldo Maldini sudah merespons pernyataan Kiai Said. Faldo menegaskan tidak ada upaya pemerintah untuk ikut campur dalam Muktamar NU. Menurutnya hal tersebut bukanlah ranah pemerintah.

“Ini sepenuhnya ranah warga NU,” ujarnya.

Menurut Faldo, setiap organisasi punya aturan dan independensi yang harus dilindungi. Ini hak konstitusional dan pemerintah akan pastikan itu terlaksana, ujarnya.

Selain soal intervensi pemerintah, saling serang antar kubu juga terus berlangsung. Misalnya saja ada tuduhan bahwa Kiai Yahya dekat dengan dengan Yahudi dan Israel. Dia digambarkan begitu karena memang pernah berkunjung ke Israel. Ini menjadi penting karena banyak kiai NU yang sampai saat ini masih membenci Israel.

Para pendukung Kiai Yahya menjawab bahwa kedatangan ke Israel itu dilakukan sebagai bagian dari misi diplomatik. Dan ini penting karena muslim Indonesia diharapkan bisa menjadi penengah dalam konflik Timur Tengah.

Serangan tidak saja ditujukan pada Kiai Yahya. Kepemimpinan Kiai Said selama 2 periode juga mulai digugat. Isi surat-surat khusus yang pernah dikeluarkan Kiai Said mulai dibuka ke publik.

Si penyebar surat nampaknya ingin membuat kesan bahwa Kiai Said sudah terlalu jauh terlibat konflik kepentingan dengan kekuasaan. Menjelang Muktamar, saling serang ini mungkin sekali akan semakin intensif.

Kalau dilihat sejarahnya, konflik dalam Muktamar NU, memang berulangkali terjadi. Pada Muktamar NU di Situbondo pada 1984, terjadi konflik sangat keras antara kelompok yang disebut Kubu Cipete dan Kubu Situbondo.

Demikian pula saat Muktamar Cipasung 1994. Saat itu, Gus Dur mendapatkan perlawanan langsung dari Abu Hasan yang nyatanya disokong oleh kekuatan negara. Kemenangan Gus Dur saat itu sempat membuat murka Presiden Soeharto.

Dalam Muktamar NU tahun 2015 di Jombang, konflik bahkan sudah terjadi di saat penetapan tata tertib. Ketegangan saat itu sudah sampai hampir diikuti dengan baku hantam secara fisik.

Banyak para sesepuh dan kiai NU yang saat itu sampai menangis menyaksikan kekacauan di dalam mukatamar itu.

Walaupun konflik mungkin memang lazim di internal NU, kami di CSW berharap Muktamar NU nanti terlaksana tanpa diwarnai konflik yang memecah. NU adalah organisasi besar yang sudah berusia hampir satu abad. NU seharusnya menjadi teladan dan panutan bangsa.

Kami, dan seluruh bangsa Indonesia, rasanya tak ingin melihat NU berseteru. Apalagi jika sampai menyaksikan kiai sepuh menangis seperti Muktamar pada tahun 2015. Mudah-mudahan para elit NU dapat bersikap bijak mengutamakan kepentingan dan kemaslahatan NU, bangsa dan negara.