Jemaat Ahmadiyah Bantu Warga Korban Banjir di Sintang

318
foto (ilustrasi) dok. Antara

Jakarta, CSW – Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dikabarkan turun tangan membantu warga korban banjir di Sintang, Kalimantan Barat. Mereka memberikan bantuan awal berupa pembagian 100 paket sembako.

Aksi kemanusiaan ini dilakukan melalui sayap kemanusiaan JAI, yaitu Humanity First (HF) Indonesia. Dari siaran pers HF yang diterima CSW terkait aksi kemanusiaan ini, dikatakan bantuan disalurkan kepada para korban di Kelurahan Menteng dan Kelurahan Ulak Jaya, Sintang, pada 31 Oktober lalu.

“Bantuan awal berupa pembagian 100 paket sembako dibagikan kepada para korban yang membutuhkan. Per paket terdiri dari: beras 5 kg, minyak goreng 1 kg, gula 1 kg, ikan kaleng, mie instan, dan Teh Kotak,” tertulis dalam siaran pers tersebut.

HF tidak melakukan aksi kemanusiaan ini sendiri. Selain melibatkan Pengurus dan Anggota JAI Sintang, HF juga berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Sosial Sintang.

Sebagai informasi, Sintang dilanda banjir sejak awal Oktober lalu. Sebanyak 12 dari 14 kecamatan di Sintang terendam banjir dengan ketinggian air mencapai hingga 2 meter.

Banijr mengakibatkan tempat tinggal warga terendam, begitu juga fasilitas umum seperti gedung pemerintahan dan sekolah. Akses jalan terputus.

Pemerintah Sintang bahkan sampai mengeluarkan Status Tanggap Darurat Bencana Alam Banjir, Angin Puting Beliung dan Tanah Longsor sebanyak 2 kali. Pertama sejak 5 Oktober 2021 sampai dengan 18 Oktober 2021 (14 hari), lalu diperpanjang menjadi 19 Oktober 2021 sampai 16 November 2021 (30 hari).

Pelaksana Harian Bupati Sintang Yosepha Hasnah mengimbau kepada masyarakat korban banjir yang ingin mengungsi, untuk mendaftarkan diri ke Dinas Sosial dan BPBD Sintang atau melalui kecamatan. Ini agar pengungsi dapat terakomodir dengan baik.

Diperkirakan warga terdampak banjir mencapai 20.874 kepala keluarga. Pemerintah setempat sudah membuka 4 lokasi pengungsian yang menyediakan dapur umum.

“Pemerintah memiliki kemampuan terbatas dalam membantu warga dan kami sangat berterima kasih apabila ada warga yang secara sukarela membantu sesama yang menjadi korban banjir,” kata Yosepha seperti dikutip Antara pada 26 Oktober lalu.

Kepala BPBD Sintang Sugianto mengatakan, banjir disebabkan karena hujan dengan intensitas tinggi. Dampaknya, debit air Sungai Melawi dan Sungai Kapuas meningkat.

Jika intensitas hujan masih tetap tinggi, lanjut Sugianto, tidak menutup kemungkinan ketinggian air akan bertambah dan banjir semakin parah. “Sehingga wilayah yang terdampak banjir akan semakin meluas hingga dapat melumpuhkan aktivitas warga,” katanya kepada Kompas Online pada 26 Oktober lalu.

Aksi kemanusiaan yang dilakukan warga Ahmadiyah ini layak kita apresiasi. Warga Ahmadiyah hadir untuk membantu dan meringankan masyarakat yang tengah berduka akibat banjir dan keterbatasan pemerintah setempat.

Padahal kondisi warga Ahmadiyah Sintang sendiri belum pulih. Mereka sebelumnya menjadi korban pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan di Sintang.

Pada awal September lalu, sekitar 200 orang mendatangi Masjid Miftahul Huda yang merupakan rumah ibadah milik JAI. Mereka mengklaim diri mereka sendiri sebagai Aliansi Umat Islam.

Mereka merusak masjid itu, membakarnya, dan melemparinya dengan botol berisi bensin yang sudan disiapkan. Masjid yang diimpikan warga Ahmadiyah sejak 2007 lalu itu hanya bertahan 4 bulan setelah pembangunannya rampung pada Mei lalu.

Tindakan tidak beradab itu mungkin tak akan terjadi jika sedari awal Pemerintah Sintang taat pada konstitusi. Alih-alih menjamin hak kebebasan beragama dan berkeyakinan bagi semua warganya, Plt Bupati Sintang tampak takluk dengan tekanan kelompok intoleran.

Walhasil Pemkab Sintang mengeluarkan kebijakan yang mengorbankan hak beragama warga Ahmadiyah dengan menutup paksa Masjid Miftahul Huda pada pertengahan Agustus lalu. Itu pun masih dianggap kurang oleh kelompok intoleran, sehingga mereka melakukan penyerangan dan perusakan.

Warga Ahmadiyah adalah teladan yang patut kita ikuti. Meski kerap menjadi korban pelanggaran dan kekerasan, rasa kemanusiaan tetap yang diutamakan oleh warga Ahmadiyah.

(Irwan/Rio)