“Jurnalisme Seksis” Gaya Viva

202

Jakarta, CSW – Pers atau media massa adalah bagian dari civil society yang punya peran strategis. Salah satu fungsi pers, selain memberi informasi dan menghibur khalayak, adalah mengedukasi publik. Karena pentingnya peran media itulah Civil Society Watch memberi perhatian khusus pada media.

Tetapi apa yang terjadi jika pengelola media itu asyik dengan dirinya sendiri, seleranya sendiri, dan kepentingannya sendiri? Maka media itu tidak lagi melayani publik. Bahkan fungsi edukasi publik oleh media akan dikorbankan.

Itulah yang terjadi di beberapa media di Indonesia. Baru-baru ini, warganet menyampaikan kritik keras terhadap gaya pemberitaan media daring Viva.co.id. Warganet ramai membicarakan sebuah unggahan berisi beberapa tangkapan layar atau screenshot judul berita olahraga di situs media Viva.co.id.

Supaya mendapat gambaran yang jelas, berikut ini adalah beberapa contoh judul berita di rubrik olahraga Viva.co.id, pada periode 2020 – 2021:

Pose Seksi Bidadari Bulutangkis Australia di Atas Ranjang Bikin Ngilu (22 Januari 2021); Duh, Pose Mengangkang Pebulutangkis Cantik Kanada di Gym Bikin Ngilu (2 November 2020); Wow, Bidadari Bulutangkis Australia Pamer Foto Seksi Tampak Bokong (21 April 2020); Wow, Aksi Nakal Bidadari Bulutangkis Australia Berbikini Bikin Heboh (1 November 2020); Wow, Bidadari Bulutangkis Australia Pamer Tubuh Seksi di Kolam Renang (14 Juli 2020); dan lain-lain.

Dengan judul-judul semacam itu, tak heran, bukan cuma warganet yang memprotes. Organisasi profesi Aliansi Jurnalis Independen atau AJI Jakarta juga mengecam keras. Dalam siaran persnya, 29 Juli 2021, AJI Jakarta mendesak agar media massa menghentikan praktik seksisme dan subordinasi, serta patuh terhadap Kode Etik Jurnalistik dalam pemberitaan olahraga.

AJI Jakarta menyimpulkan, judul berita yang terdokumentasi selama 2020-2021 di situs Viva ini tampak mengobjektivikasi para atlet perempuan, dan merendahkan kemampuan personal dan profesional mereka.

Alih-alih memberitakan olahraga yang fokus terhadap prestasi para atlet, Viva justru menayangkan berita-berita seksis yang eksploitatif dan diskriminatif terhadap identitas gender. Gaya pemberitaan seperti itu dilakukan hanya demi mendulang klik.

Seksisme dan Gender

Seksisme adalah prasangka yang didasarkan pada gender. Seksisme seringkali ditujukan pada perempuan. Sehingga yang dimaksud disini adalah adanya penilaian negatif terhadap seseorang karena seseorang tersebut adalah perempuan.

Menurut AJI Jakarta, gaya pemberitaan semacam ini sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang mengikat kerja-kerja jurnalistik. Nilai-nilai itu tertera dalam Kode Etik Jurnalistik, yang diatur dalam Peraturan Dewan Pers Nomor: 6/Peraturan-DP/V/2008 dan UU Pers No. 40/1999.

Gaya pemberitaan Viva itu juga dianggap melanggar Pasal 8 Kode Etik Jurnalistik. Pasal itu berbunyi, “Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.”

Oleh karena itu, AJI Jakarta meminta agar media massa tidak lagi melakukan praktik usang, seperti seksisme dan subordinasi terhadap kaum perempuan di media.

Sekarang di seluruh dunia, isu kesetaraan gender terus digemakan. Maka, jika masih ada media yang melakukan praktik seksisme dan subordinasi terhadap perempuan dan kelompok rentan, gaya berita seperti itu sudah usang dan sangat tercela. Berarti, media itu tidak mengikuti perubahan zaman yang semakin progresif.

Padahal, Indonesia tidak kekurangan tokoh-tokoh perempuan hebat di berbagai bidang. Untuk masa kini, misalnya, ada Megawati Soekarnoputri, yang mantan Presiden dan ketua partai besar. Lalu, Sri Mulyani yang Menteri Keuangan kaliber dunia dan pakar ekonomi. Berikutnya, Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri yang ahli hubungan internasional. Juga, Susi Pudjiastuti, mantan Menteri Kelautan yang pengusaha, dan masih banyak lagi.

Sungguh sangat merendahkan, jika tokoh-tokoh perempuan hebat ini tidak mendapat penghargaan yang selayaknya dari media. Apalagi, jika media lebih sibuk menyoroti hal-hal yang bersifat tampilan fisik kaum perempuan, berdasarkan selera wartawannya. Seperti: bentuk tubuh, cara berbusana, ukuran pinggang, dan sebagainya.

Kritik pedas dari warganet dan organisasi profesi AJI Jakarta selayaknya dijadikan sebagai masukan berharga. Yakni, agar media massa meningkatkan kualitas pemberitaan mereka. Juga, meningkatkan sikap profesionalisme para wartawannya.

CSW mengimbau media massa, agar memastikan jurnalisnya mematuhi pedoman pemberitaan media dan kode etik jurnalistik dalam setiap produk jurnalistiknya. CSW juga mendorong publik, untuk memantau berita-berita yang bermasalah secara etik, serta melaporkannya ke Dewan Pers. (rio)