Kebangkitan Muslim di Amerika yang Mengesankan

194
foto dok. voaindonesia.com

Jakarta, CSW – Meskipun mengalami demonisasi, Muslim di Amerika mengalami peningkatan yang mengesankan. Demikian menurut laporan majalah terkemuka The Economist edisi 11 September 2021. Tulisan ini menjadi penting, sebagai pengimbang atas fenomena kemenangan Taliban di Afganistan, dan mundurnya pasukan AS dan NATO dari sana.

Kemenangan Taliban pada Agustus 2021 tidak disambut suka cita di seluruh dunia. Bahkan di negara-negara modern yang mayoritas populasinya Muslim seperti Indonesia, hanya sebagian yang melihat jatuhnya Kabul ke tangan Taliban sebagai sesuatu yang “membanggakan.” Hal ini karena komunitas dunia masih teringat pada “Taliban versi lama” (1996-2001), yang mewakili gambaran “muslim yang terbelakang.”

Citra Taliban lama adalah versi Muslim yang melarang musik, melarang kaum perempuan bekerja, melarang anak gadis bersekolah, dan menghancurkan benda-benda warisan budaya. Dunia tidak pernah lupa kekejaman dan kedegilan Taliban, ketika Malala Yousafzai, gadis berusia 15 tahun, ditembak di kepala dan leher oleh Taliban Pakistan pada 9 Oktober 2012.

Malala yang waktu itu sedang pulang sekolah dengan naik bus nyaris tewas, jika tidak ditolong dan diungsikan oleh masyarakat dunia. Namun Malala tidak mundur oleh tekanan Taliban. Ia malah akhirnya meraih Hadiah Nobel Perdamaian pada 2014, sebagai aktivis yang gigih berjuang melawan penindasan terhadap anak-anak. Malala termasuk peraih Nobel termuda.

Jumlah Masjid Meningkat di AS

Nah, kontras dengan kondisi Muslim di Afganistan yang kini dikuasai Taliban, periode 20 tahun terakhir tampaknya justru telah menjadi “periode emas” bagi Muslim Amerika. Populasi komunitas Muslim AS meningkat lebih dari dua kali lipat, menjadi 3,5 juta. Dan keterkenalan mereka dalam kehidupan Amerika telah meningkat secara eksponensial.

Jika kita melintasi jalan layang di kota besar mana pun di AS, kita bisa melihat kubah-kubah masjid berkilauan di bawah. Jumlah masjid telah meningkat lebih dari dua kali lipat di AS sejak 2001. Pertumbuhan sekuler minoritas Muslim bahkan lebih mencolok. Muslim adalah salah satu kelompok agama paling berpendidikan di AS. Lebih dari 15% dokter di Michigan adalah Muslim, meskipun jumlah Muslim kurang dari 3% dari populasi di negara bagian itu.

Para seniman, jurnalis, dan politisi Muslim juga mengejar ketertinggalan. Mahershala Ali, Ayad Akhtar, Aziz Ansari dan Hasan Minhaj termasuk di antara generasi aktor, penulis, dan komedian Muslim pemenang penghargaan, yang muncul dalam beberapa tahun terakhir.

Di bawah Rashida Tlaib dan Ilhan Omar—wanita Muslim pertama di Kongres AS—duduk banyak pejabat Muslim, yang terpilih menjadi dewan sekolah dan menjadi pemerintah daerah. Empat abad setelah Islam datang ke Amerika, umat Islamnya menemukan tempat mereka yang bermartabat.

Namun reaksi Islamofobia yang diderita masyarakat Muslim, setelah menara kembar World Trade Center roboh dalam aksi teror 11 September 2001, telah meningkat. Setengah dari orang Amerika, termasuk sebagian besar dari pemilih Partai Republik, mengatakan, Islam mendorong kekerasan. Itu dua kali lipat jumlah yang menganut pandangan tersebut pada awal 2002.

“Meskipun kami mencoba untuk berintegrasi, ini adalah hal-hal yang kami jalani,” kata Ali Dabaja, seorang dokter perawatan darurat dari Michigan. Kemudian Dabaja terisak di telepon, ketika dia ingat saat seorang sopir truk di Florida mencoba menabraknya dan dua saudara perempuannya yang mengenakan jilbab (satu dokter, yang lain seorang pengacara) dari jalan.

Melawan Sikap Paranoid

Ancaman terhadap Muslim seperti itu terjadi, meskipun banyak suri tauladan dari kaum Muslim AS. Lebih ironis lagi, sesungguhnya relatif sangat sedikit kekerasan yang dilakukan oleh Muslim AS. Serangan Islamis diperkirakan telah merenggut 107 nyawa sejak 2001. Angka ini lebih sedikit dari kekerasan yang dilakukan kaum supremasi kulit putih. Dan hampir setengah dari angka korban itu terjadi dalam penembakan massal di klub gay, yang mungkin tidak dimotivasi oleh agama.

Donald Trump pernah berjanji untuk melarang Muslim dari Amerika, dan didukung oleh 60% kaum pemilih Partai Republik. Apa yang terjadi? Ini adalah perjuangan yang biasa bagi Amerika. Jawabannya adalah, mengadu keterbukaan dan dinamisme melawan nativisme dan sikap paranoid. Muslim AS hanyalah minoritas terakhir yang terlibat di dalam pertarungan ini.

Pada sisi terbuka kontes itu, pertumbuhan dan kesuksesan Muslim AS adalah bukti kejeniusan Amerika untuk imigrasi. Lebih dari setengah Muslimnya lahir di luar negeri, termasuk banyak orang terampil yang tertarik dengan undang-undang imigrasi 1965.

Ini termasuk ayah Asia Selatan dari Akhtar, Ansari dan Minhaj; yang pertama dan kedua adalah dokter, dan yang ketiga ahli kimia. Di Amerika, mereka menemukan kesempatan, kebebasan beragama, budaya sipil (keadaban), dan jarak fisik dari kehidupan lama mereka.

Sesudah menikmati semua itu, para migran Muslim dan anak-anak mereka cenderung lebih patriotik daripada rekan-rekan Eropa mereka, dan kurang tertarik pada “jihad.” Impian Amerika (American dream) selalu merupakan penangkal terhadap ekstremisme.

Memang, mengejutkan betapa banyak Muslim AS, terutama generasi yang lebih muda, yang lahir di AS, menanggapi diskriminasi yang mereka hadapi setelah 9/11 dengan mengutip janji kebebasan Amerika.

Minhaj, yang acara Netflix hitnya disebut “Patriot Act”, menggambarkan tanggapan ayahnya dan dirinya sendiri yang bertentangan, kepada para preman yang memecahkan kaca mobil mereka. Sang ayah yang lebih tua ketakutan dan pasrah. Sedangkan, Minhaj yang lebih muda heran dan marah.

Demikian pula, Aasim Padela, seorang dokter perawatan darurat dan ahli bioetika Islam. Ia mengatakan, kefanatikan yang dia hadapi, bahkan ketika menara kembar WTC terbakar, “telah mengubah hidup saya”.

Islamofobia dan Anti-Muslim

Sebagai seorang mahasiswa kedokteran Cornell pada saat itu, ia ingin membantu merawat korban yang terluka. Tapi tidak ada sopir bus Manhattan yang mau membukakan pintu untuknya. “Stetoskop saya tidak bisa menyembunyikan janggut saya,” katanya. Meski begitu, Padela bersikukuh dan memutuskan untuk merepresentasikan nilai-nilai Muslimnya dalam karir medisnya.

Namun 9/11 tidak menjelaskan pertumbuhan sentimen anti-Muslim. George W. Bush berusaha keras untuk meredamnya. Menyerang Muslim (Muslim bashing) tampak tetap bercokol di kubu kanan, karena hal itu berpadu terutama dengan budaya keluhan yang lebih luas yang muncul di sana—terutama setelah terpilihnya seorang presiden kulit hitam dengan nama Muslim (Barack Obama) pada 2008.

Kekhawatiran, yang diakui kaum Islamofobia Amerika, menggarisbawahi hal ini. Mereka kurang khawatir ketimbang rekan-rekan sepadan di Eropa, tentang praktik dan keyakinan konservatif Muslim (beberapa di antaranya juga dimiliki oleh penganut Kristen evangelis). Tapi mereka lebih khawatir tentang imigrasi Muslim.

Ketika Trump terjun ke politik dengan mengisyaratkan bahwa Barack Obama adalah Muslim dan juga orang asing, dia menyiratkan bahwa predikat “muslim” dan “orang asing” adalah sinonim. Trump kemudian menjadikan serangan ke Muslim sebagai pusat kampanye kepresidenannya. Analisis selanjutnya menunjukkan, Islamofobia adalah ciri paling khas pemilih Trump.

Ini adalah kefanatikan yang bertahan, karena keluhan-keluhan dari mayoritas kulit putih yang sedang merosot. Dengan kata lain, ini sama sekali bukan tentang Muslim—terutama realitas minoritas (Muslim) Amerika yang makmur. Itu juga jelas terlihat sebelum pemilihan presiden 2020, ketika Trump tiba-tiba mengalihkan perhatiannya dari Muslim ke aktivis kulit hitam.

Pergeseran itu konsisten dengan penelitian yang menunjukkan bahwa –dengan segala hiruk pikuknya yang mengganggu– serangan terhadap Muslim (Muslim bashing) dari Partai Republik mungkin tidak terlalu mengancam seperti yang diperkirakan oleh hasil jajak pendapat.

“Karena populasi Muslim berbasis di kota-kota dan jumlahnya relatif kecil, kaum nativis hanya memiliki sedikit kontak dengan mereka, dan tidak mungkin fokus pada Muslim untuk waktu yang lama,” kata Shadi Hamid dari Brookings Institution. “Kami bukan target utama xenophobia karena ada kelompok-kelompok yang lebih besar untuk dijadikan sasaran rasis.”

Sangat jelas siapa yang memenangkan pertarungan ini. Kefanatikan kaum kanan mencerminkan status anggotanya yang hilang. Sementara warga Muslim AS akan terus meningkat. Covid¬19 —atau lebih tepatnya, kegilaan yang diciptakan oleh kubu kanan tentang Covid—memberikan gambaran yang kuat tentang posisi-posisi relatif tersebut.

Para pemilih Trump yang anti-vaxxer, yang sekarang kemungkinan paling banyak dirawat di rumah sakit

dengan Covid ini, cenderung menjadi orang Amerika yang paling anti-Muslim. Padahal para dokter yang merawat mereka kemungkinan besar adalah Muslim.

Ironi ini tidak hilang pada Dr Dabaja. “Tetapi ketika orang menghadapi kenyataan kematian atau kematian orang-orang yang mereka cintai,” katanya, “agenda politik mereka cenderung memudar.” (Satrio Arismunandar)

 

Notes:

Sebagian besar bahan tulisan ini dikutip dari The Economist, 11 September 2021.