Ketika Prof Joel Picard dan Kawal Covid-19 Meracau soal Data Covid-19

1403

Jakarta, CSW – Pertama-tama saya harus minta maaf karena menggunakan kata ‘meracau’ untuk menggambarkan apa yang disampaikan Prof. Joel Picard dan Kawal Covid-19. Prof. Picard adalah seorang guru besar ilmu sosial terkemuka dari Universitas Teknologi Nanyang, Singapura. Organisasi Kawal Covid-19 adalah sebuah organisasi masyarakat sipil yang juga dikenal aktif mengawal Covid-19.

Tapi sayangnya, ketidakdewasaan menyebabkan mereka bicara serampangan, tidak melandaskan diri pada argumen yang rasional, sehingga tampak meracau.

Mereka ini rupanya marah sekali dengan postingan saya di media sosial (FB, Twitter dan Instagram) pada 18 Juli sore yang berbunyi: “Penduduk Inggris 68 juta, meninggal karena Covid 128 ribu. Penduduk RI 270 juta meninggal karena Covid 73 ribu.”

Tolong Anda baca baik-baik isi postingan saya.

Saya tidak memuat opini apa-apa. Saya biarkan data itu tersaji secara telanjang untuk diinterpretasikan sendiri oleh pembacanya. Dan ini adalah data resmi, bukan data spekulatif.

Saya nanti akan jelaskan mengapa saya melakukan perbandingan antara Indonesia dan Inggris. Tapi sekarang saya akan tunjukkan dulu kekacauan berpikir Prof. Picard dan Kawal Covid-19.

Prof. Picard menurunkan sejumlah tweet memaki-maki saya. Pada 18 Juli 2021, artinya beberapa jam saja setelah tulisan saya menyebar, dia memaki saya.

Tulis Prof. Picard: Fuck You Ade Armando! Fuck You! Kemudian keesokan harinya, dia menulis 2 tweet lagi.

Tweet pertama memuat dua gagasan utama:

Pertama, mortalitas dan morbiditas adalah indikator untuk mengukur keparahan suatu bencana, tapi angka-angka itu sangat sensitif, politis dan tidak serta-merta mewakili realitas yang kompleks.

Kedua, kita butuh wisdom untuk memaparkannya.

Sekadar catatan, mortalitas merujuk pada angka kematian dan morbiditas adalah angka orang sakit.

Di tweet kedua dia menulis dengan dua gagasan utama:

Pertama-tama, membandingkan angka kematian membutuhkan kehati-hatian agar kita paham validitas angka-angka itu dan faktor-faktor pembedanya. Kedua, membandingkan angka kematian lewat sebuah meme bukan hanya ketololan tapi juga niat jahat untuk menyepelekan nilai dari setiap nyawa manusia yang hilang.

Apa yang dia tulis itulah yang menurut saya, betapa kacaunya argument dia. Bayangkan, mengapa dia tiba-tiba menulis di media sosial, sebuah ruang publik, kata: Fuck You Ade Armando!

Apa yang menyebabkan dia kalap? Apakah dia menulis tweet itu sambil mabuk?

Dan kemudian ketika dia berkesempatan untuk menjelaskan kemarahan, dia hanya bicara hal-hal abstrak dan normatif, tanpa menjelaskan apa yang dia tidak setujui dari data yang saya sampaikan.

Saya kurang lebih mengerti apa yang dia maksud dengan narasi dia seperti: “angka-angka adalah sensitive, politis”, atau ‘kita butuh wisdom untuk memaparkannya”, atau “membutuhkan kehati-hatian agar paham validitas angka-angka itu”.

Dan saya juga kurang lebih mengerti hinaan dia bahwa saya bukan hanya ‘tolol’ tapi juga ‘berniat jahat’ untuk ‘menyepelekan nilai dari setiap nyawa manusia yang hilang’.

Masalahnya, Prof. Picard tidak mampu mendukung segenap tuduhan dan penghinaan saya ini dengan data dan argument.

Misalnya saja soal data itu sensitif dan politis, tentu saja saya setuju dengan proposisi itu. Tapi kalau sekarang saya kembali bertanya: “Kalau saya tidak boleh membandingkan data Inggris dan Indonesia; bolehkah saya membandingkan data Indonesia dan -taroklah- Selandia Baru yang jumlah kasus Covid-19 dan kematiannya jauh lebih rendah?”

Misal yang lain adalah soal menyepelekan nilai nyawa manusia. Apakah itu berarti saya tidak boleh menyebut data tentang jumlah orang yang meninggal di Indonesia? Bukankah itu setiap hari dilakukan banyak orang, banyak pengamat, media di Indonesia?

Jadi rangkaian tweet Prof. Picard menjadi tampak membingungkan karena dia terkesan sekadar sedang meracau dengan menggunakan kalimat-kalimat abstrak yang mungkin sengaja dilontarkannya untuk membangun otoritas keilmuannya, tapi sebenarnya kosong melompong.

Saya rasa dia marah karena apa yang saya tulis bertentangan dengan kepercayaan dia bahwa kinerja pemerintah Indonesia dalam menangani Covid-19 buruk. Dia ingin membantah data saya, tapi tidak punya cukup argumen.

Kekacauan berikutnya dilakukan Kawal Covid-19. Saya hanya mengutip dari pemberitaan sebuah media online. Jadi saya tidak membaca langsung dari media sosialnya. Tapi saya percaya kutipannya bisa dipercaya.

Kawal Covid-19 juga mengomentari postingan saya yang membandingkan Inggris dan Indonesia.

Mereka merespons saya dengan tweet berbunyi:

“Pingin sih sedikit mengedukasi tentang signifikansi statistik yang you kutip dan cara membacanya dalam konteks, sekaligus kenapa penting bicara data dengan empati… Cuma kami nggak pengen jadi manusia mubazir seperti you.”

Sebagaimana Prof. Picard, Kawal Covid-19 menggunakan kalimat-kalimat abstrak untuk membangun kesan bahwa mereka ahli statistik dan berdasarkan ilmu statistik yang mereka kuasai, saya salah membaca data. Tapi mereka tidak mau menjelaskan kesalahan saya, karena merasa itu adalah tindakan ‘mubazir’!?

Saya rasa persoalan Kawal Covid-19 sama dengan Prof. Picard. Mereka sebenarnya tahu data saya valid, tapi mereka tidak senang data ini diungkapkan ke depan publik. Karena itu mereka harus menyerang. Karena tak mampu berargumen di tingkat substansi, mereka hina saya untuk meluapkan kebencian mereka.

Buat saya kekacauan Prof. Picard dan Kawal Covid-19 ini memalukan. Mereka memiliki reputasi tinggi, tapi mereka tampaknya gelap mata.

Mereka marah karena mereka tidak suka dengan data yang berseberangan dengan apa yang mereka yakini dan mereka ingin agar juga diyakini banyak orang. Tapi alih-alih mengeritik dengan argumen dan data pembanding, mereka cuma bisa meracau.

Setelah menjelaskan kekacauan Prof. Picard dan Kawal Covid-19, saya ingin menjelaskan mengapa saya membandingkan data Inggris dan Indonesia.

Alasan saya sederhana: data penting dan karena itu kita harus rajin membaca data untuk menjelaskan apa yang terjadi di sekitar kita.

Kalau Anda mengatakan bahwa kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia buruk, Anda harus memiliki indikator. Untuk itu Anda harus membackup pernyataan Anda dengan data.

Nah indikator paling mudah adalah jumlah orang yang terkena Covid-19 dan jumlah orang yang meninggal karena Covid-19.

Kalau saya melihat situs yang lazim digunakan sebagai rujukan, yakni worldometers, maka kita akan ketahui bahwa jumlah orang terkena Covid-19 saat ini (data 19 Juli 2021) di Indonesia mencapai 2,9 juta, sementara yang meninggal sekitar 75 ribu. Penambahan orang terkena Covid-19 pada satu hari mencapai 34.257 orang.

Tampak besar. Tapi penilaian kita tidak akan lengkap kalau kita tidak melakukan pembanding dengan negara lain.

Sebagai contoh Indonesia menempati posisi ke-16 tertinggi dalam hal total kasus warga terkena Covid-19. Nomor satunya Amerika Serikat dengan total kasus 34,9 juta; disusul India (31 juta) dan Brazil (19 juta).

Apakah Indonesia perlu merasa aman karena masih berada jauh di bawah? Nanti dulu. Kita mungkin di nomor 16 di dunia, tapi kita nomor 1 di Asia Tenggara. Jumlah kasus kita jauh di atas Filipina (1,5 juta), Malaysia (900 ribu), Thailand (400 ribu) dan seterusnya.

Begitu juga kalau yang dilihat adalah jumlah penambahan kasus per hari, Indonesia berada di peringkat kedua tertinggi di dunia, di bawah Inggris. Di Indonesia penambahan jumlah kasus dalam satu hari mencapai 34 ribu, sementara Inggris 39 ribu.

Jadi kita buruk dong? Nanti dulu lagi. Jumlah kasus Covid-19 kita 2,9 juta orang; tapi kan penduduk Indonesia mencapai 270 juta orang. Jadi tidak layak dong dibandingkan dengan misalnya negara yang jauh lebih kecil, seperti negara-negara tetangga kita.

Karena itu worldometer memberikan indikator lain. Namanya jumlah kasus Covid-19 per 1 juta penduduk.

Ternyata dibandingkan mayoritas negara di dunia, posisi Indonesia relatif baik. Di Indonesia, per 1 juta penduduk, terdapat 10,5 ribu kasus. Sementara Filipina 13 ribu, Malaysia 28 ribu, dan Singapura 10,7 ribu.

Tentu saja angka ini kemudian bisa Anda ragukan, mengingat masih banyak jumlah warga Indonesia yang belum diperiksa. Jadi angkanya harus dilihat sebagai tidak mewakili gambaran sesungguhnya.

Tapi dalam hal ini, harus saya katakan, kita memang harus berbicara dengan menggunakan data resmi. Kita tidak bisa berspekulasi. Yang paling bisa kita lakukan adalah disclaimer bahwa data Indonesia sebenarnya belum valid sepenuhnya.

Namun demikian, yang ingin saya katakan adalah bahwa data itu penting dan perbandingan data itu penting kita lakukan.

Anda tidak bisa marah dan menuduh dengan dramatis bahwa si peneliti seolah melihat data sebagai sekadar statistik, padahal angka-angka itu mewakili manusia yang kehilangan nyawa.

Itu memang statistik. Masalahnya, statistik kita perlukan untuk melihat pola, perkembangan, kecenderungan.

Sekarang pertanyaannya: mengapa saya membandingkan Indonesia dengan Inggris?

Saya tergelitik untuk melihat perbandingan itu karena dua hal.

Pertama saya ingin menguji apakah Indonesia memang layak disebut buruk kondisinya, sehingga memang harus dilakukan langkah semacam lockdown. Kedua, Inggris menarik untuk dipelajari karena negara ini baru saja secara resmi menyatakan mencabut semua restriksi yang semula berlaku pada Senin 19 Juli.

Mereka bahkan menggunakan istilah ‘Hari Kemerdekaan’ dari Covid-19 (Freedom Day).

Mereka mencabut kewajiban penggunaan masker, menghilangkan pembatasan atas jumlah orang yang berada dalam satu ruangan, social distancing hanya diterapkan pada mereka yang terkena Covid-19 dan di airport, sementara nightclub dan arena sport dibuka untuk kapasitas penuh.

Dan inilah yang menjelaskan mengapa di final Piala Eropa kita menyaksikan stadion Wembley disesaki oleh puluhan ribu penonton.

Karena itu marilah kita lihat data Covid-19 di Inggris.

Ternyata saya menemukan bahwa jumlah korban meninggal karena Covid-19 di Inggris adalah 128 ribu. Penduduknya 68 juta. Jumlah kasus terkena Covid19-nya adalah 5,4 juta, Dan jumlah kasus Covid-19 per satu juta penduduk adalah 80 ribu.

Dengan kata lain, jumlah penduduk Inggris jauh lebih rendah dari Indonesia, sementara jumlah kasus Covid19-nya jauh lebih tinggi dari Indonesia. Ini adalah data pembanding yang sangat relevan untuk pembicaraan tentang lockdown dan PPKM.

Di situlah arti penting data.

Saya tentu saja tidak ingin mengatakan kondisi Indonesia baik-baik saja. Kondisi pandemi di Indonesia jelas memprihatinkan. Tapi bagaimana menghadapi kondisi itu, terbuka untuk didiskusikan. Apakah dengan lockdown, PPKM, atau sekadar menjaga prokes. Untuk membahasnya kita perlu data dan pembanding. Pada akhirnya kita mungkin tidak bersepakat, tapi kita harus bicara dengan bertanggung jawab.

Sayangnya Prof. Picard dan Kawal Covid-19 tidak cukup dewasa untuk menerima bahwa cara mereka membaca Indonesia bukanlah kebenaran tunggal.

Mereka marah dan meracau. Kekanak-kanakan. Tapi ya memang begitulah kualitas mereka.