Kisruh Dana Bantuan Gereja Dari Anies

323

Jakarta, CSW – Ada cerita kurang menyenangkan tentang Anies Baswedan dan gereja di Jakarta. Kabarnya, gara-gara Anies Baswedan mengucurkan dana bantuan untuk rumah ibadah, terjadi keretakan di organisasi gereja di Jakarta.

Ini terkait dengan apa yang disebut BOTI atau Bantuan Operasional Tempat Ibadah. Program BOTI sebenarnya sudah mulai dijalankan Pemprov DKI pada 2019. Ketika itu dananya baru mencapai 87,5 miliar rupiah

Tapi yang berhak memperoleh bantuan hanya masjid dan mushollla. Gereja belum dapat. Nah setahun kemudian, baru bantuan diberikan kepada gereja, wihara, pura dan kuli. Hanya saja, karena Covid, jumah bantuannya turun mencapai sekitar Rp 67 miliar.

Pada 2021, dana total BPTI meningkat kembali. Hampir dua kali lipat tahun sebelumnya. Dana total BOTI pada 2021, sangat besar. Mencapai 140 miliar rupiah. Menurut pemprov DKI, itu diperuntukkan lebih dari 3.000 masjid, 2.000an musholla, 1.300 gereja, serta ratusan wihara, pura dan kuil.

Bantuan tidak diberikan langsung ke setiap rumah ibadah. Untuk Islam, bantuan disalurkan melalui Dewan Masjid Indonesia. Baru kemudian Dewan masjid mengalokasikannya kepada masjid dan musholla. Untuk Hindu, BOTI disalurkan melalui Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI).

Untuk Budha, BOTI disalurkan melalui Majelis Buddhayana Indonesia (MBI). Untuk gereja, koordinasi penyaluran diberikan kepada Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia (PGPI). Ini yang menimbulkan masalah.

Saat ini ada beberapa Organisasi gereja di Indonesia. Untuk umat Katolik, cuma dikenal satu organisasi induk, yaitu KWI atau Konferensi WaliGereja Indonesia. Ini berbeda dengan Protestan. Protestan punya banyak denominasi dengan ratusan gereja.

Mereka tergabung tidak dalam satu organisasi. Yang terbesar adalah Persatuan Gereja Indonesia atau PGI. PGI adalah organisasi gereja-gereja protestan tertua. PGI berdiri pada 1950 dan saat ini memiliki 91 denominasi gereja di 27 Wilayah. Sekitar 80% umat Protestan adalah jemaat gereja anggota PGI.

Selain PGI, ada dua organisasi yang cukup besar: PGLII dan PGPI. PGLII adalah singkatan dari Persekutuan Gereja dan Lembaga Injil Indonesia. Didirikan pada 1971, PGLII memiliki 81 denominasi gereja. Baru setelah itu ada PGPI, atau Persekutuan Gereja Pantekosta Indonesia.

PGPI baru berdiri pada 1979, dengan 83 denominasi gereja. Seperti tadi dikatakan, pemprov DKI tidak menyalurkan dana BOTI 2021 itu melalui PGI, melainkan PGPI. Pertanyaannya, kalau Pemprov DKI memang ingin memberi bantuan bagi gereja Kristen, bukankah seharusnya dana bantuan itu disalurkan melalui PGI sebagai organisasi yang terbesar?

Kenapa justru disalurkan melalui PGPI yang jauh lebih kecil dari PGI? Pertanyaan ini yang menimbulkan kecurigaan di kalangan umat Kristen. BOTI bagi gereja memang diduga sebagai salah satu upaya Anies untuk menarik hati umat Kristen.

Dia kan selama ini dianggap sebagai gubernur yang cenderung dekat dengan kelompok-kelompok Islam konservatif. Apalagi kalo orang mengingat apa yang terjadi pada Pemilihan Gubernur DKI 2016.

Ketika itu Anies didukung oleh kelompok-kelompok Islam yang dianggap tidak toleran. Serangan terhadap kelompok non-muslim sangat terasa pada masa itu. Ahok yang menjadi lawan Anies digambarkan sebagai seorang Kristen yang seharusnya haram dipilih umat Islam.

Sampai-sampai ketika itu ada seruan agar orang Muslim tidak menshalatkan jenazah sesama muslim yang mendukung Ahok. Jadi ada anggapan bahwa Anies ketika itu menang dengan menggunakan semangat anti non-muslim.

Sekarang, mengingat Anies diperkirakan akan maju sebagai capres 2024, dia tentu harus merebut simpati umat Kristen. Dalam kaitan itulah, ia dianggap berusaha mengalirkan dana miliaran rupiah untuk gereja-gereja di Jakarta.

Langkah Anies ini nampaknya berhasil membangun citra baru dia sebagai gubernur yang mengayomi umat Kristen. Paling tidak pimpinan PGPI sudah memuji-muji Anies setinggi langit.

Maret lalu, Ketua Umum Gereja Pentakosta di Indonesia, pendeta Johny Weol, menyatakan keliru menganggap Anies Baswedan adalah sosok intoleran. Sentuhan Anies untuk gereja, menurutnya, sangat berarti.

Ketua PGPI, Pdt. Jason Balompapueng juga memuji-muji kepemimpinan Anies di DKI Jakarta. Ia menyebut Anies sebagai sosok nasionalis. Jason memandang Anies sebagai pemimpin yang memegang komitmen, seorang yang sangat pluralis dan menjaga kerukunan umat beragama.

Seorang aktivis dan jurnalis, Freddy Mutiara, jemaat Gereja Bethel yang adalah anggota PGPI, bahkan menurunkan tulisan dengan judul, “Saat Anies Baswedan Meneladani Karakter dan Ajaran Tuhan Yesus Kristus.”

Dalam tulisan itu, Freddy mengeritik umat Kristen yang tidak bisa melihat secara objektif sederet kebaikan Anies kepada umat Kristiani di DKI Jakarta. Freddy juga menulis bahwa saat bertemu tatap muka pada Maret 2022, Anies Baswedan menegaskan komitmen dan posisinya terhadap toleransi dan kelompok minoritas.

Kata Fredy, sikap Anies yang diam ini sejatinya mirip dengan karakter dan ajaran Yesus Kristus tentang kasih dan pengampunan. Menurut Fredy, Anies menaburkan banyak benih kasih dan kebaikan kepada umat Kristiani selama menjabat Gubernur DKI Jakarta

Anies justru menjalankan ajaran Yesus Kristus: ditampar pipi kanan, berikan pipi kiri. Kalau dibaca pernyataan-pernyataan itu, strategi Anies memang nampak membuahkan hasil. Juga banyak pihak yang menyatakan, para pendeta dari gereja-gereja kecil yang menjadi anggota PGPI sangat berterima kasih atas bantuan Anies melalui BOTI.

Gereja-gereja kecil sangat terpukul akibat Covid. Selama ini gereja-gereja tersebut mengandalkan pemasukan dari persembahan jemaat yang hadir saat beribadat di gereja. Ketika pandemi, ibadah hampir sepenuhnya berlangsung daring.

Akibatnya kunjungan fisik jemaat menurun. Sumbangan jemaat pun turun drastis. Karena itulah mereka sangat berterima kasih kepada Anies yang memberikan sumbangan BOTI. Tapi strategi Anies ini bukannya tanpa masalah. Banyak gereja di luar PGPI yang marah pada PGPI.

Ini bukan karena mereka iri atau cemburu tidak mendapat BOTI. Yang membuat sebagian gereja marah adalah karena PGPI dianggap terlalu murah menjual diri pada Anies. Sebagai umat Kristen, PGPI dianggap seharusnya tidak begitu saja mau dibujuk untuk menerima dana dari Anies yang bertujuan politik.

Apalagi banyak petinggi Kristen dan Katolik menganggap bahwa gereja seharusnya tidak terlibat dalam politik. Sikap ini juga yang menyebabkan PGI dan KWI menolak ketika didekati Pemprov DKI untuk bersedia menerima bantuan.

Jadi, Pemprov DKI menyalurkan bantuan melalui PGPI sebenarnya terjadi karena memang hanya PGPI yang bersedia menerima bantuan. Apa yang terjadi menyebabkan keretakan di kalangan umat Kristen.

Apalagi kemudian juga terdengar testimony dari sejumlah gereja yang mengaku dicatut namanya oleh Pemprov DKI Jakarta namun belum menerima dana BOTI. Ini misalnya terungkap oleh sebuah media online, Tunas Bangsa.

Media tersebut mengungkapkan bantahan sejumlah pendeta tentang adanya aliran dana BOTI. Mereka menepis pernyataan Ketua PGPI yang menyebut bantuan Pemprov telah disampaikan ke semua gereja dan pendeta serta sekolah-sekolah Minggu yang berdomisili di Jakarta.

Memang ada yang menerima. Tapi tidak semua gereja di bawah payung PGPI menerima BOTI. Langkah Anies dan Pemprov DKI memang sangat patut disayangkan. Kalau Pemprov memang mau membantu, seharusnya dicari cara agar dana itu bisa terbagi secara adil bagi semua rumah ibadah. Dan seharusnya bantuan tersebut tidak terkait dengan tujuan politik apapun. Kita harapkan keretakan dalam tubuh gereja ini tidak berlanjut