Media Sosial Menyebabkan Orang Merasa Kekurangan

139
foto dok. Detik

Jakarta, CSW – Media sosial (medsos) telah sedemikian masif memasuki kehidupan manusia. Dari sisi psikologi, dampaknya yang langsung terlihat adalah perubahan aspek pribadi dan relasi interpersonal (jatidiri, keluarga, pertemanan, dan persahabatan). Ada temuan bahwa medsos cenderung menyebabkan penggunanya merasa berkekurangan atau kurang nyaman tentang diri.

Hal itu diungkapkan Elizabeth Kristi Poerwandari, dalam pidato di upacara pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Psikologi Klinis, Fakultas Psikologi UI di Depok, 16 Oktober 2021. Pidato Elizabeth diberi judul: “Manusia Dalam Era Industri Ke-empat: Isu Kesehatan Mental, Eksistensi, dan Psikologi Sebagai Ilmu.”

Ditambahkannya, rasa kurang nyaman tentang diri itu karena pengguna medsos cenderung membandingkan diri (ada pembandingan sosial) dengan teman sebaya yang terlihat lebih cantik, lebih kaya, lebih banyak teman, lebih keren hidupnya, lebih pandai, lebih internasional, dan seterusnya.

Di sisi lain, cukup banyak yang sulit mengendalikan perilaku problematiknya di medsos. Ada fenomena FOMO (Fear of Missing Out), ketika orang khawatir, bila tidak aktif di medsos, ia akan tertinggal berita, atau akan hilang dari peredaran dalam pergaulan. Individu khawatir tidak bereksistensi lagi, dan orang lupa bahwa ia ada.

Hadirnya aplikasi kencan juga mengubah pola berelasi. Karena tatap muka dengan teman sebaya jauh berkurang, anak muda sulit menjalin pertemanan yang akrab dan merasa kesepian. Maka hadir dan populerlah aplikasi kencan.

Dalam hubungan interpersonal dan romantis, di masa sebelumnya orang berproses dan menikmati hal-hal kecil. Misalnya, dengan berkenalan, bertemu langsung, menunggu atau menjemput pacar, dan bertemu di akhir pekan.

“Namun, di era digital, anak muda mencari keintiman melalui aplikasi kencan. Dan karena ikatan emosional dan komitmen dianggap merepotkan, sebagiannya berhubungan seksual tanpa ikatan atau komitmen. Karenanya, juga dapat muncul problematika terkait perilaku seksual,” ujar Ketua Program Studi Doktor, Fakultas Psikologi UI ini.

Isolasi Sosial dan Depresi

Elizabeth memaparkan, penggunaan internet juga berimplikasi pada kehidupan sosial dan suasana hati. Misalnya, menghadirkan perasaan sepi, isolasi sosial dan depresi. Probabilitas untuk mengalami simtom depresi meningkat dengan menurunnya frekuensi pertemuan tatap muka langsung antarmanusia.

Penggunaan anonimus menampilkan ciri “tak terkendali.” Misalnya, individu akan lebih mudah membagikan cerita atau hal-hal pribadi terlalu banyak secara meluas di medsos, atau berbicara kasar.

Teknologi juga meningkatkan kecemasan individual maupun kolektif, antara lain karena demikian membanjirnya pesan dan informasi secara tak terkendali. Bermain video game secara eksesif mengubah hubungan dan perilaku individu dengan orang lain dan menurunkan empati.

“Sebaliknya, ketika anak bermain dengan permainan yang mengajarkan perilaku prososial dan kerjasama, hal tersebut akan membantu dikenal dan berkembangnya empati,” ucap Elizabeth, yang meraih gelar doktornya di Studi Filsafat dari FIB-UI.

Koneksi daring berlebihan juga dapat menyebabkan suasana panas dan gejolak (‘flaming’) yang mengganggu fungsi sosial. Komunikasi daring sering bernuansa kasar, yang dapat mengganggu hubungan.

Lebih mudah menyelesaikan masalah atau salah pemahaman secara tatap muka langsung daripada lewat daring. “Misalnya, candaan di dunia maya mungkin disalahtanggapi sebagai penghinaan. Hal ini karena ada hal-hal yang terlewat atau tidak dapat ditangkap dalam komunikasi daring, dibandingkan kalau kita bertatap muka langsung,” jelas Elizabeth.

Lebih lagi, pesan teks dapat mudah diteruskan ke pihak-pihak lain, yang menambah rumit persoalan. Komentar kurang menyenangkan yang dibaca oleh banyak orang juga akan terasa lebih menyakitkan dan berbekas lama, daripada bila kita memperoleh masukan langsung, tanpa diketahui banyak orang lain.

Teknologi memungkinkan kita memuat pesan atau teks negatif, yang dapat mempermalukan orang lain, yang akan tertinggal terus secara permanen. Ada banyak konten positif juga di dunia maya, tetapi anonimitas memudahkan deindividuasi dan relasi yang “toksik.”

Semua masalah terkait kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi ini menjadi tantangan baru bagi ilmu psikologi.

Relevansi Teori-teori Psikologi

Elizabeth mengemukakan, selama ini psikologi arus utama bekerja dengan asumsi bahwa dunia beroperasi secara mekanis, dapat diramalkan dan dapat dikendalikan. Teori-teori psikologi bicara dalam konteks tersebut. Misalnya, terkait tugas perkembangan dan perkembangan karir. Sementara, yang teramati sekarang adalah bahwa dunia selalu berubah dan sulit diramalkan.

Teori-teori juga dikembangkan dalam konteks relasi antar individu yang bertatap muka langsung. Jadi, sejauh manakah teori-teori yang ada masih memiliki relevansi dengan konteks sekarang? Bila bangunan utama teori masih relevan, bagaimana memasukkan perubahan besar yang terjadi akibat internet dan teknologi tinggi, agar teori yang ada tetap memiliki manfaat atau sumbangannya untuk diterapkan dalam konteks kini?

Menurut Elizabeth, karena kompleksnya berbagai persoalan yang telah dibahas sebelumnya, karakteristik psikologi yang khas –yakni, menekuni dua sisi, sebagai ilmu dan sebagai profesi menolong– perlu dikuatkan.

Di satu sisi, psikologi perlu menemukan pengetahuan yang mendasar sekaligus relevan, untuk menjawab persoalan masa kini. Hal itu terkait dengan banyak sekali hal. Misalnya, proses perkembangan, maturasi dan belajar, termasuk proses neurologis dari beraktivitas dengan internet dan teknologi tinggi.

Di sisi lain, psikologi juga memiliki kewajiban sebagai ‘helping profession’. Untuk itu psikologi perlu memanfaatkan berbagai teori dan hasil penelitian yang telah ada, untuk mengembangkan berbagai pendekatan yang memfasilitasi manusia, untuk mampu ‘menguasai’ lingkungan dan menjaga kesehatan mentalnya.

Karena psikologi adalah ilmu berparadigma majemuk, pengembangan ilmu tetap dapat menggunakan perspektif berbeda-beda, sesuai bidang minat dan keahlian masing-masing, ataupun dalam kerangka filsafat transdisiplin. Dalam penerapannya, perspektif berbeda tampaknya dapat direkonsiliasi, karena sesungguhnya ia menjelaskan manusia yang multidimensi dan kompleks. (Satrio)