MENGHARUKAN, PATUNG BUNDA MARIA DIARAK DI TASIKMALAYA

612

Jakarta, CSW – Ada peristiwa yang mengharukan di saat peringatan hari kemerdekaan Indonesia lalu. Dalam acara Kirab Kebangsaan Merah Putih di Tasikmalaya, Jawa Barat, ada arak-arakan Patung Bunda Maria dan Salib.

Kirab kemerdekaan kan memang berlangsung di seluruh Indonesia. Biasanya acara ini dihiasi banyak symbol-simbol budaya yang mencerminkan keberagaman Indonesia. Tapi yang dilakukan di Tasikmalaya masuk dalam kategori yang luar biasa.

Kenapa? Karena Tasikmalaya sering dijuluki kota santri dan mayoritas penduduknya muslim. Dan ternyata di dalam arak-arakan kirab itu ditampilkan juga symbol-simbol agama Kristen.

Ini menjadi penting mengingat sekarang ini kita sangat sering mendengar kasus-kasus diskriminasi terhadap umat Kristen, termasuk juga di daerah Tasikmalaya dan sekitarnya. Tapi kirab kemerdekaan tahun ini seakan menghilangkan gambaran negetif itu.

Kirab kemerdekaan Tasikmalaya ini memang keren. Arak-arakan patung Bunda Maria ini dilakukan oleh Gereja Paroki St Yohanes Pembaptis Ciamis yang jadi salah satu peserta kirab.

Patung itu diarak di sepanjang kota Tasikmalaya, mulai dari Jalan Yudanagara dan berakhir di kompleks olahraga Dadaha. Hebatnya yang membawa tandu berisi patung Bunda Maria itu sejumlah pria yang mengenakan bajo loreng yang menjadi seragam khas Banser Nahdlatul Ulama.

Jadi patung Bunda Maria itu dibawa oleh pemuda muslim. Ngagumin nggak sih? Dalam video berdurasi 2 menit yang diunggah Paroki Ciamis, selain Patung Bunda Maria ada juga flyer berisikan gambar Bunda Maria dan bayi Yesus.

Para peserta terlihat mengenakan jubah Katolik dengan ikat pita bendera merah putih di kepala. Juga ada salah satu peserta yang membawa dupa sebagai representasi keragaman budaya Indonesia.

Masyarakat yang berjejer di pinggir jalan pun menyambut dengan antusias patung Bunda Maria. Acara yang diselenggarakan oleh jajaran TNI dan Polri ini diikuti berbagai elemen masyarakat.

Berbagai daerah mengirimkan kontingen masing-masing. Kontingen Ciamis misalnya membawa kreasi Wayang Landung atau wayang berukuran raksasa. Kontingen Garut membawa seni Dodombaan.

Tapi yang paling menarik tentu saja Patung Bunda Maria dan Salib. Apa yang terjadi di Tasikmalaya ini pantas menjadi teladan. Tapi juga menjadi penting karena karakter kota Tasikmalaya itu sendiri.

Tasikmalaya kan dikenal sebagai sebuah kota yang memiliki banyak sisi menarik. Juga dikenal sebagai kota santri, karena di kota ini tersebar banyak pondok pesantren. Kota ini juga merupakan pusat pendidikan ketiga terbesar di Jawa Barat setelah Bandung dan Bogor.

Ada sekitar 30 universitas, akademi, dan sekolah tinggi di kota kecil ini, meskipun jumlah penduduknya hanya sekitar 731 ribu orang. Di sana juga sering diadakan berbagai macam festival berskala nasional maupun internasional.

Misalnya saja nihm ada Tasik Festival (TAFFEST), Tasik Open 2010 dalam bidang olahraga tingkat nasional, Festival Kuliner Tasikmalaya, Tasikmalaya Craft and Culture Festival, dan festival-festival lainnya yang rutin diadakan tiap tahun di kota ini.

Ada banyak artis terkemuka yang datang dari kota ini, seperti Rhoma Irama, Itje Tresnawati, Vety Vera, Caca Handika, Evie Tamala, Indra Bruhgman, dan lain-lain. Jadi di satu sisi Tasikmalaya memiliki karakter kota yang relijius, kreatif dan menghargai keberagaman.

Tapi di sisi lain, di kota ini juga terdapat akar-akar radikalisme. Misalnya saja di kota ini dulu terdapat akar gerakan Darul Islam yang memperjuangkan terbentuknya negara Islam di Indonesia.

DI/TII bahkan mengembangkan aksi bersenjata untuk memisahkan diri dari NKRI, di tahun 1950. Aksi mereka dilumpuhkan pada tahun 1959, dan di era Orde Baru mereka sama sekali nggak terdengar kegiatannya.

Tapi sejak reformasi, kelompok-kelompok yang masih membawa semangat DI kembali berkembang. Bahkan dalam beberapa kasus, ada sejumlah teroris yang tertangkap di Tasikmalaya.

Kelompok-kelompok radikal ini memang menjadi salah satu persoalan di tasikmalaya. Mereka terlibat dalam gerakan untuk menekan dan menindas umat minoritas, seperti umat Kristen dan juga Ahmadiyah.

Bahkan ada kasus pembakaran gereja dan konflik antara umat Kristen dan Islam di desa Cikawunggading. Juga ada penyerangan terhadap pesantren Islam Al-Idrisiyyah yang dianggap sebagai aliran sesat.

Gerakan kaum radikal ini juga bersifat politik. Secara aktif kelompok-kelompok radikal ini berusaha mempengaruhi tokoh-tokoh dan pemimpin daerah agar mendukung lahirnya Perda Perda Syariah.

Mereka berusaha mendorong lahirnya Peraturan Gubernur atau Peraturan Bupati tentang pelarangan kegiatan keagamaan kaum minoritas. Untuk menarik simpati dari masyarakat, kyai dan kalangan pesantren, mereka juga secara aktif menjalankan gerakan kekerasan terhadap sejumlah tempat hiburan dan razia minuman keras.

Tapi masyarakat di sana nggak tinggal diam. Masyarakat Tasik secara tegas berusaha melawan radikalisme ini. Misalnya saja waktu ketika Habib Rizieq Shihab pulang ke Indonesia tahun 2020, kelompok-kelompok masyarakat Tasik menolak kehadirannya di Tasik.

Masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Warga Tasikmalaya bahkan melakukan unjuk rasa yang cukup besar. Mereka menyatakan menolak semua bentuk radikalisme dan intoleransi yang menjadi penyebab perpecahan bangsa.

Salah satu kelompok nasionalis yang aktif melawan radikalisme di Tasikmalaya adalah Nahdlatul ULama. Yang paling aktif adalah kelompok-kelompok muda NU yang ada, seperti Gerakan Pemuda Ansor, Garda Bangsa dan PMII.

Tanpa segan-segan kelompok muda NU menghadang gerakan radikal baik dalam pemahaman keislaman maupun Aksi masa. Tapi sampai saat ini tidak pernah terjadi bentrokan fisik antara kelompok Muda NU dengan kelompok Islam radikal.

Perlawanan ini menjadi menguat karena mereka juga mendapat dukungan dari pemerintah. Di Kabupaten Tasikmalaya, misalnya, pemerintah melalui Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) melakukan Sosialisasi Radikalisme dan Terorisme.

Walikota Tasikmalaya juga aktif melakukan kegiatan pencerahan terhadap masyarakat. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme bahkan memberi penghargaan kepada Wali Kota tasikmalaya Muhammad Yusuf atas upaya maksimal dalam mencegah dan menanggulangi kaum radikal di sana.

Di setiap perayaan Natal misalnya, polisi secara aktif melakukan sterilisasi 14 gereja yang ada di Tasikmalaya. Hal itu dilakukan untuk memastikan yang ibadah di gereja berjalan aman.

Jadi mudah-mudahan dengan tampilnya symbol-simbol Kristen dalam Pawai Kemerdekaan tahun ini bisa menjadi pertanda tentang menguatknya gerakan toleransi anti radikalisme di Tasikmalaya.

Salut!