NASIB DOKTER MUDA, DARI JADI PEMBANTU SAMPAI DIPERAS PULUHAN JUTA

111

Jakarta, CSW – Apa yang disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin ini luar biasa bikin kaget. Ternyata dalam dunia kedokteran Indonesia banyak kasus yang terjadi yang sama sekali tidak manusiawi.

Banyak dokter muda yang dieksploitasi seniornya dan ini berlangsung selama puluhan tahun. Dan ini pula yang mungkin menyebabkan Ikatan Dokter Indonesia panik dalam UU Kesehatan kekuasaan mereka itu dihapus.

Dalam UU Kesehatan yang baru saja disahkan, kewenangan untuk meregulasi profesi kedokteran akan diambil alih oleh Kementerian Kesehatan. Ini bisa dipahami karena ternyata selama ini, di bawah otoritas IDI, nasib para dokter muda benar-benar menderita.

Menkes sampe secara khusus loh membuat konferensi pers untuk bercerita soal nasib para dokter muda yang mengikuti program pendidikan dokter spesialis atau dokter residen. Masyarakat perlu tahu, perjalanan seorang dokter sampai bisa praktek apalagi menjadi dokter spesialis itu sangat panjang.

Setelah selesai menempuh pendidikan kedokteran dan berhasil memperoleh gelar dokter, seorang dokter aja masih harus memperdalam ketrampilan klinis mereka. Nah ini juga bisa terjadi beberapa tahun. Dokter harus belajar berbagai aspek praktek kedokteran, seperti diagnosis, perawatan pasien, penanganan kasus gawat darurat, dan prosedur medis.

Dalam proses magang ini, si dokter berada di bawah pengawasan dokter spesialis senior. Kalau dilakukan secara benar, sebenarnya ini proses yang baik untuk membuat si dokter menjadi matang.

Dokter muda harus dibiasakan menghadapi kasus-kasus yang sesungguhnya. Karena tentu saja ada perbedaan antara apa yang dipelajari di kelas dan dari buku, dengan apa yang benar-benar terjadi di lapangan.

Si dokter muda ini juga harus belajar hidup di bawah tekanan. Nggak boleh manja, nggak boleh gampang menyerah. Tapi ini rupanya dimanfaatkan oleh para dokter senior yang seharusnya membimbing dokter-dokter muda ini.

Para dokter senior justru mengeksploitasi para dokter muda. Cara-caranya itu nggak manusiawi. Tapi dokter muda nggak berani ngelawan karena karier mereka bergantung pada rekomendasi para dokter senior itu.

Menurut penjelasan Menkes, para dokter residen kerap dijadikan semacam pelayan pribadi atau bahkan sapi perahan dokter senior. Tugasnya jauh dari materi pendidikan calon dokter yang harusnya diterima.

Praktek ini menyebabkan kerugian mental, fisik, finansial para dokter muda. Pak Budi menyebut banyak sekali contoh. Nih misalnya ya, si dokter muda dijadikan asisten, sekretaris, sebagai pembantu pribadi.

Disuruh mengantar dan bayar laundry, mengantar anak, sampai mengurus parkir. Kalau kerjanya nggak beres, si dokter muda bisa saja dicaci maki. Banyak juga dokter muda yang diminta membuatkan tugas para dokter senior.

Jadi selama ini kalau sudah jadi dokter, para dokter senior diwajibkan IDI untuk membuat karya ilmiah atau penelitian yang hasilnya harus dimuat di jurnal. Karena malas, dokter senior ini bisa saja memerintahkan para dokter muda untuk membuatkan penelitian dan karya ilmiahnya itu.

Akibatnya sang dokter muda terpaksa harus kerja keras mempelajari topik-topik yang mungkin nggak sesuai dengan ketertarikannya. Ada kasus yang lebih parah nih Si dokter muda diperas untuk mengumpulkan uang bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Nanti uangnya akan dipakai untuk macam-macam keperluan si senior. Misalnya saja untuk membayar rumah kontrakan untuk dokter senior berkumpul, dengan nilai mencapai Rp 50 juta per tahun. Ada pula yang meminta dokter residen membelikan makanan untuk para dokter senior, terutama kalau harus bekerja sampai tengah malam.

Dan jangan pikir para dokter senior hanya minta makanan level warteg ya. Mereka bisa saja meminta makan Jepang, yang setiap kali makan bisa mencapai ratusan ribu atau bahkan jutaan rupiah.

Atau misalnya, seminggu sekali para dokter senior itu ingin melakukan pertandingan sepakbola. Para dokter muda nanti akan diperintahkan membayarkan sewa lapangan, sampai sewa sepatunya juga.

Ini kan bullying banget. Menkes menyatakan akan memutus praktek bullying sudah berakar kuat dan berjalan puluhan tahun itu. Pak Budi juga menyediakan sarana hotline bagi para dokter muda yang dibully dokter seniornya untuk melapor ke Menkes.

Para dokter nggak perlu lagi kuatir bahwa kalau dia sampai melapor, kariernya akan macet. Karena karier dokter sekarang ditentukan oleh Kementerian Kesehatan, IDI nggak bisa lagi menghambat dengan tidak mengeluarkan rekomendasi.

Menurut Menkes, bila sampai ini ditemukan adanya pembullyan, dokter senior akan memperoleh sanksi. Dari sanksi ringan berupa teguran, penurunan pangkat, sampai diberhentikan.

Tidak terbayangkan betapa sulitnya hidup para dokter di Indonesia Menkes menyebutnya sebagai tradisi yang sudah berlangsung selama berpuluh tahun. Artinya praktek ini sudah berjalan sejak lama dan dibiarkan atau bahkan direstui IDI.

Dan para dokter umumnya nggak berani bicara karena mungkin khawatir kalau mereka berani mengeritik dokter senior, karier mereka akan hancur. Menteri Kesehatan sebelum ini mungkin juga nggak berani bertindak apa-apa karena solidaritas sesama dokter.

Pak Budi Sadikin ini bukan dokter, jadi dia bisa lebih objektif bersikap. Kita dukung terus pembenahan dunia kedokteran Indonesia. Bukan hanya semata-mata untuk ketenteraman para dokter, tapi juga agar para dokter bisa berpraktek sebaik-baiknya untuk melayani kesehatan masyarakat.