Penelitian Dewan Pers & UPDMB: Media Arus Utama Masih Cukup Dipercaya Publik

138
foto dok. shutterstock

Jakarta, CSW – Media massa adalah bagian dari civil society yang besar peranannya. Hasil penelitian belum lama ini  menunjukkan, media arus utama (mainstream media) ternyata masih cukup dipercaya oleh publik. Media arus utama menjadi media konfirmasi untuk informasi yang didapatkan oleh masyarakat di media baru atau media sosial.

Demikian yang terlihat dari laporan akhir penelitian “Kepercayaan Publik Terhadap Media Pers Arus Utama di Era Pandemi Covid-19.” Penelitian 2021 ini merupakan hasil kerjasama antara Dewan Pers dengan LPM Fakultas Ilmu Komunikasi Prof.Dr. Moestopo Beragama (UPDMB).

Tim penelitinya adalah: Dwi Ajeng Widarini, S.Sos, MI.Kom, Fizzi Andriani, SE., M.Si, Dr. Natalia Nilamsari, M.Si, dan Dr. Eni Kardi Wiyati, MSi.

Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran tentang tingkat kepercayaan publik terhadap media pers arus utama pada 2021 dibandingkan dengan platform media sosial, berdasarkan perbedaan karakteristik usia (Generasi Baby Boomers, X, Millennial, dan Z) pendidikan, jenis kelamin dan provinsi.

Hal ini, menjadi pembeda dari penelitian di tahun 2019 mengenai Kepercayaan Publik Pada Media Arus Utama, yang belum menyandingkan perbedaan golongan tersebut. Karakteristik ini diharapkan dapat menjadi temuan baru dalam mengamati kepercayaan publik pada media massa.

Survey dilakukan pada Mei-Juli 2021, dengan menggunakan instrumen kuisioner melalui Google Form juga melalui studi pustaka. Total sample sebesar 1.020 responden, menggunakan sistematik random sampling melalui 30 sampel per-provinsi di 34 provinsi di Indonesia dengan rentang usia 13-56 tahun.

Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan distribusi frekuensi, dan Cross-Tabulations. Analisis data tersebut untuk menggambarkan secara kuantitatif antar indikator. Analisis tersebut dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SPSS (Statistical Program for Social Science).

Rujukan Utama Masyarakat

Di era pandemi saat ini, informasi di media arus utama memiliki peranan untuk memberikan penjelasan mengenai penyebaran, kebijakan pemerintah, hingga vaksin Covid-19 kepada publik, untuk mengurangi ketidakpastian informasi.

Media arus utama selain menjadi sumber informasi, pengetahuan dan hiburan bagi masyarakat, juga merupakan rujukan utama masyarakat di masa pandemi, karena kebutuhan untuk update informasi terbaru sangat dibutuhkan.

Namun, terdapat sejumlah faktor yang mendorong masyarakat untuk mempertanyakan konten media massa, karena dianggap tidak cukup untuk menumbuhkan keyakinan publik. Sejumlah faktor yang mempengaruhi kepercayaan publik pada media di antaranya perubahan perilaku konsumsi media, teknik penyajian informasi yang berkembang saat ini, kecenderungan media partisan dan narasi figur publik.

Media siber dipercaya berdasarkan faktor data dan fakta yang disajikan, juga nama besar media. Sementara televisi/streaming dipercaya berdasarkan faktor data dan fakta yang disajikan dan narasumber berita. Sedangkan, media online/siber merupakan media yang paling tinggi digunakan sebagai konfirmasi kebenaran informasi, diikuti oleh TV/streaming.

Terkait dengan informasi mengenai Covid-19 sebagian besar responden dari 34 provinsi mempercayai informasi dari pakar di bidang yang relevan terkait informasi Covid-19. Narasumber dari pemerintah dipercayai oleh responden yang berasal dari provinsi NTT, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara, dengan jumlah yang berimbang antara pakar dengan narasumber dari pemerintah

Kepercayaan Publik

Media arus utama menjadi sarana informasi yang menyajikan informasi yang teruji kebenarannya dan menyajikan fakta yang relevan sesuai dengan kebutuhan publik. Berdasarkan penelitian kepercayaan publik terhadap media pers arus utama tahun 2019 (Dewan Pers, 2019), disimpulkannya, media arus utama masih menjadi sarana utama bagi publik, dalam melakukan proses verifikasi informasi dengan mengakses media siber dan televisi.

Menurut survei yang dilakukan Edelman Trust Barometer 2021 (Edelman, 2021), tingkat kepercayaan media di Indonesia meningkat tiga poin menjadi 72 atau tertinggi di dunia.

Hal ini, senada dengan hasil Nielsen Television Audience Measurement (TAM) mengenai tren konsumsi media di 11 kota. Tren menunjukkan, rata-rata kepemirsaan TV mulai meningkat dalam periode Maret 2020 dengan penambahan 1 juta pemirsa TV, dari rata-rata rating 12 persen pada 11 Maret menjadi 13,8 persen pada 18 Maret 2020 (Nielsen, 2020).

Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) mencatat, ada 1.028 hoaks terkait informasi Covid-19 pada Agustus 2020. Meningkatnya hoaks dan sumber informasi yang dibagikan kepada masyarakat melalui media sosial, menjadi tantangan baru bagi media arus utama, dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap informasi yang disajikan kepada masyarakat.

Penggunaan media sosial sebagai salah satu sumber informasi bagi masyarakat bagai pisau bermata dua. Di satu sisi, ia membawa nilai positif. Sedangkan di sisi lain, ia membawa nilai negatif dengan munculnya informasi hoaks atau informasi yang mengandung mis-informasi, dis-informasi, dan mal-informasi.

Edelman Trust Baromater Global Report 2018 menunjukkan, maraknya hoaks (berita bohong/palsu) membuat kepercayaan publik terhadap platform media sosial dan mesin pencari (search engine) turun.

Terkait kepercayaan tersebut, pada 2020, Dewan Pers menerima 800 pengaduan terkait dengan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh media arus utama. Fenomena mengejar “klik banyak” menjadi salah satu alasan, berita di media daring lebih banyak melanggar kode etik jurnalistik dibandingkan media lainnya.

Selain itu, juga penggunaan frekuensi publik untuk kegiatan-kegiatan dan liputan yang bersifat privasi, seperti pernikahan artis, akhirnya mengesampingkan kebutuhan masyarakat akan informasi yang memberikan peningkatan pengetahuan. (rio)