PERBUDAKAN, PELECEHAN PEREMPUAN OLEH AKTIVIS DEMOKRASI?

153

Jakarta, CSW – Ada kehebohan di kalangan aktivis demokrasi. Ada tuduhan bahwa terjadi perbudakan terselubung oleh aktivis demokrasi senior, Juga ada tuduhan bahwa terjadi pembiaran ketika ada kekerasan seksual berlangsung. Ironisnya ini semua bermula dari rencana idealis

Ini menyangkut dua nama jurnalis senior terkenal di Indonesia. Yang pertama Dandhy Laksono Yang kedua Farid Gaban Dandhy adalah seorang videografer yang sangat banyak dipuji. Mantan jurnalis televisi ini selama bertahun-tahun membuat berbagai film documenter yang menyerang pemerintah. Karya-karyanya memang bagus. Di tahun 2014, Dandhy sebenarnya masih pro Jokowi.

Tapi sejak 2015, Dandhy membuat sejumlah video yang mengungkapkan kerusakan lingkungan, kondisi rakyat kecil, kolusi perusahaan dan sebagainya. Tiga film terkenalnya adalah Samin versus Semen, Pulau Plastik dan Sexy Killers. Dandhy seperti menganggap tidak ada satupun aspek positif dari pemerintahan Jokowi. Orang kedua adalah Farid Gaban. Mantan wartawan Republika ini juga dikenal sangat kritis terhadap pemerintah. Bagi Farid, pemerintah Jokowi juga seolah nggak ada bagus-bagusnya.

Reputasi kedua jurnalis anti Jokowi ini sudah legendaris sebagai aktivis demokrasi. Di awal tahun ini mereka berdua menjalankan sebuah projek yang agak gila. Nama projeknya Ekspedisi Indonesia Baru 2022 Projek ini sebenarnya merupakan pengulangan dari dua ekspedisi sebelumnya. Pada 2009, Farid Gaban dan kawannya, Ahmad Yusuf, melakukan perjalanan ke seluruh Indonesia dengan menggunakan sepeda motor. Di sepanjang perjalanan mereka merekam apa yang mereka lihat dalam bentuk tulisan dan foto.

Perjalanan itu dilakukan dalam waktu satu tahun. Pada 2015, giliran Dandhy yang meniru seniornya. Bersama satu temannya, Ucok, dia mengendarai sepeda motor ke seluruh nusantara. Juga selama satu tahun. Tapi bedanya dengan Farid, Dandhy merekam Indonesia melalui video. Dari kumpulan rekamannya, Dandhy melahirkan seri 12 video tentang Indonesia yang bisa disaksikan di Youtube.

Bila Farid bekerja mandiri, Dandhy mengerjakannya bersama perusahaan video bernama Watchdoc. Sangat mungkin ada penyandang dana dan sponsornya. Nah, pada 2022, Dandhy dan Farid berkolaborasi. Hanya saja kali ini, mereka ingin melibatkan lebih banyak orang. Mereka mengeluarkan pengumuman mengundang anak muda yang tertarik untuk melakukan perjalanan selama satu tahun tanpa jeda.

Syaratnya harus berusia 18-30 tahun dan memiliki SIM C. Anak muda itu harus memiliki kemampuan dasar fotografi, videografi atau penulisan. Memang tidak ada sekalipun disebut soal sepeda motor. Namun hampir pasti si peserta itu harus melakukan perjalanan dengan menggunakan sepedamotor yang dimiliki sendiri. Itu semua nampak oke.

Tapi dalam pengumuman itu juga dinyatakan peserta harus bersedia tidak mendapat gaji dan imbalan selama ekspedisi. Yang disediakan hanyalah logistic atau akomodasi.

Pada soal terakhir inilah reaksi bermunculan. Banyak pihak yang menuduh Dandhy dan Farid memperbudak anak muda untuk keuntungan mereka berdua. Kaum muda itu diperlakukan sebagai sukarelawan. Padahal diduga ada penyandang dana di belakang projek ini. Jadi, kalau memang ada dana, kenapa uang tersebut hanya mengalir ke Dandhy dan Farid?

Para relawan itu akan membuat foto, video dan tulisan tentang Indonesia. Tapi hasil karya itu nantinya akan dijual oleh Dandhy dan Farid. Dengan kata lain, ada tuduhan bahwa Dandhy dan Farid mengeksploitasi hasrat petualangan anak-anak muda itu. Menghadapi serangan itu, Dandhy dan Farid memutuskan menjawab tuduhan secara terbuka.

Pada 31 Januari malam, dilakukan sebuah diskusi melalui space twitter. Di acara itu, mereka menjelaskan bahwa ekspedisi tersebut adalah projek idealis yang sama sekali tidak berorietasi komersial. Dandhy dan Farid juga meminta maaf bila sudah menimbulkan kegaduhan.

Apakah cerita selesai? Ternyata ini baru setengah cerita. Cerita selanjutnya adalah soal kekerasan seksual. Dalam debat di space twitter tersebut, hadir Hasan Yahya yang lebih dikenal dengan nama Haye, sebagai co-host. Haye ini pembela Dandhy.

Jadi ketika ada peserta debat yang terkesan ingin menyerang Dandhy, omongannya langsung dipotong oleh Haye. Keesokan harinya, seorang peserta debat yang kesal karena tidak diberi kesempatan bicara, mengomel di twitter. Haye yang terganggu dengan cuitan itu, langsung menyerang balik. Hanya saja, bukannya menjawab dengan sopan, Haye malah menulis tweet yang sangat cabul.

Haye jelas-jelas melecehkan si perempuan yang protes itu. Karena Haye menulis pelecehan itu di twitter, tentu saja ini menimbulkan kemarahan. Lebih parahnya lagi, ternyata Haye bukan sekali ini saja melakukan pelecehan. Sudah banyak korban pelecehan dia sebelumnya. Jagad twitter pun dikirimi jejak digital pelecehan oleh Haye sebelumnya.

Para pemrotes kemudian memention Dandhy dan Farid untuk meminta komentar. Sayangnya, Dandhy tanpa mempelajari duduk perkara sesungguhnya, langsung menjawab. Tweetnya terkesan meragukan bahwa Haye memang telah melakukan pelecehan. Ini semakin membangkitkan kemarahan. Para netizen mempertanyakan integritas Dandhy dan Farid. Banyak yang menganggap bahwa Dandhy dan Farid hanya kritis terhadap pemerintah tapi bungkam ketika penindasan hak asasi dilakukan oleh teman-teman sendiri.

Dandhy memang kemudian meralat tweetnya tapi kondisi sudah kepalang buruk. Cerita belum selesai. Saat tensi meninggi, tiba-tiba saja seorang netizen bernama Irine Wardhani menumpahkan kemarahannya terhadap Farid. Irine pernah menjadi wartawan Geotimes ketika majalah itu dipimpin Farid Gaban taun 2015. Melalui tweetnya, Irine bercerita tentang kekerasan seksual yang terjadi padanya di tahun itu.

Pelaku kekerasan adalah pimpinan bidang sirkulasi. Kekerasan bukan saja bersifat verbal tapi sudah sampai fisik. Irine bahkan menyatakan ia hampir diperkosa. Hanya saja, menurut Irine, ketika dia mengadu ke Farid, aduannya tidak ditanggapi serius. Farid memang sempat memanggil saksi-saksi dan bertanya kepada pelaku. Namun kemudian kasus ini menguap begitu saja, karena Farid menganggap sulit untuk membuktikan kebenaran pengaduan Irine. Menurut Irine, Farid bahkan mengancam akan menghabisi kariernya, kalau Irine terus memperpanjang pengaduan itu. Irine terus memendam cerita itu selama 6 tahun. Dan kini, ketika terjadi keramaian soal Dandhy dan Farid, Irine merasa sudah waktunya untuk mengungkapkan pengalamannya.

Farid kemudian menjawab kisah Irine dengan menyatakan bahwa dia mengakui kesalahan karena tidak menyelesaikan kasus Irine secara tuntas. Meski demikian Farid membantah telah mengancam akan menghancurkan mantan wartawannya itu. Bahkan Farid menyatakan bersumpah tidak pernah mengatakan akan menghancurkan karier Irine.

Mudah-mudahan keriuhan ini bisa segera mereda. Kabar terakhir, Dandhy menyatakan membatalkan Ekspedisi Indonesia Baru setelah ia membaca bahwa Farid ternyata melindungi pelaku kekerasan seksual terhadap Irine. Kita tentu tidak harus menghakimi secara sepihak dan berlebihan. Tapi seperti apa yang baru saja kita bicarakan, para aktivis demokrasi bukanlah orang-orang suci. Mereka adalah warga yang juga bisa melakukan kesalahan, dan karena itu harus juga diingatkan.