Suara ‘Aisyiyah, Salah Satu Pelopor Media Perempuan di Indonesia yang Masih Bertahan

225
foto dok voa indonesia

Jakarta, CSW – Tahun ini Majalah Suara ‘Aisyiyah (SA) berumur ke-95 tahun. Majalah bulanan milik Pimpinan Pusat (PP) ’Aisyiyah, sayap perempuan Muhammadiyah, itu semula dibuat untuk menyuarakan suara kaum perempuan yang waktu itu masih terbatas aksesnya.

Majalah SA terbit pertama kali pada 1926. Dikutip dari website suaraaisyiyah.id, selain untuk mempublikasikan program-program Aisyiyah, Majalah SA juga dianggap sebagai alat yang strategis dalam memberikan perluasan pengetahuan dan penyadaran pada warga Aisyiyah, khususnya, tentang peran perempuan dalam dunia domestik dan publik.

Di terbitan awal, SA menggunakan Bahasa Jawa dengan aksara Latin. Kala itu Majalah SA baru beredar di Yogyakarta dan sekitarnya. Pada waktu itu juga, majalah SA dibagikan secara cuma-cuma dengan anggapan agar memudahkan dakwah melalui media cetak.

Ini memungkinkan karena pengurus Majalah SA menggandeng para pengusaha setempat yang merupakan anggota Muhammadiyah. Skema ini dianggap menguntungkan kedua belah pihak. Pengusaha, di satu sisi, bisa mempromosikan usahanya melalui Majalah SA sehingga jangkauan promosinya lebih luas. Sementara bagi Majalah SA, di sisi lain, bisa terbit tanpa mengeluarkan banyak dana.

Belakangan, pada 1930, Majalah SA terbit dengan Bahasa Melayu. Ini dilakukan karena pembaca Majalah SA bukan lagi terutama Anggota ‘Aisyiyah di Yogyakarta dan sekitarnya, tapi juga anggota di luar Pulau Jawa.

Pada tahun pertama, Majalah SA terbit sebanyak 9 nomor dengan tebal keseluruhan 138 halaman. Pada tahun itu oplah Majalah SA antara 600-900 eksemplar dan terus merangkak naik hingga 2.500 eksemplar pada 1938.
Kini oplah Majalah SA mencapai 6.000 eksemplar. Didistribusikan tidak saja ke pengurus Aisyiyah di seluruh wilayah di Indonesia, namun sudah menjangkau luar negeri, seperti Singapura, Australia, Mesir, dan Amerika Serikat.

Atas konsistensi itu, Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) menobatkan SA sebagai Majalah Perempuan Islam Tertua yang Berkesinambungan Terbit. Penghargaan tersebut diberikan dalam acara Puncak Milad 95 tahun SA oleh Pencetus sekaligus Ketua Umum MURI Jaya Suprana pada Sabtu (30/10).

Menurut Jaya, penghargaan diberikan karena SA selama hampir satu abad telah menjadi corong peradaban dan suluh penggerak literasi di kalangan perempuan. Kehadirannya sebagai poros media perempuan menegaskan bahwa Muhammadiyah dalam aksinya turut memperhitungkan perempuan.

“Saya harap dunia internasional dapat menjadikan perempuan-perempuan di dalam lingkaran Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sebagai contoh. Saya mendengar kabar, misalnya, perempuan-perempuan Afgan di bawah kekuasaan Taliban dibatasi ruang geraknya. Contohlah perempuan Indonesia yang dicitrakan oleh ‘Aisyiyah. Sekali lagi saya tegaskan, ini bukan cuma rekor Indonesia, melainkan rekor dunia,” kata Jaya seperti dikutip SA.

Pemimpin Redaksi SA, Hajar Nur Setyowati mengatakan, penghargaan itu diharapkan dapat menjadi penyemangat bagi gerakan literasi kaum perempuan. “Ini menjadi penyemangat buat kami agar SA tetap bisa menjadi suluh untuk mensyiarkan Islam wasathiyah yang memuliakan derajat perempuan dan perempuan berkemajuan,” kata Hajar seperti dikutip Republika.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengucapkan selamat atas penghargaan yang diterima SA. “Kelekatan SA dengan ‘Aisyiyah merupakan wujud dari kehadiran gerakan ‘Aisyiyah yang berusaha mengangkat harkat martabat perempuan,” katanya.

Haedar berpesan agar SA tetap menjadi pelopor literasi perempuan berkemajuan. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas berita, kualitas informasi, dan pesan yang disampaikan kepada masyarakat luas di tengah tantangan dunia online, serta terus memainkan perannya sebagai suluh bagi perempuan Indonesia.

Dewan Redaksi Majalah SA, Adib Sofia, menyatakan, Majalah SA selalu membawa isu besar yang berbeda dalam dekade yang dilewati. Pada edisi-edisi awal hingga era 1940-an, misalnya, Majalah SA banyak mengangkat upaya pemberantasan buta aksara. Aisyiyah memberikan perhatian besar pada isu kemampuan perempuan agar bisa menulis dan membaca.

Dekade selanjutnya, hingga era 1950-an, Majalah SA memuat banyak isu terkait upaya melek diri. Majalah ini mendorong perempuan agar mengenal jati dirinya, berupaya keras memberantas kebodohan, menyebarkan pengetahuan, sekaligus mendorong pemahaman tentang kesetaraan dengan laki-laki.

Pada dekade 1960-an, Majalah SA mengajak perempuan melek masalah. Gerakan yang diprioritaskan adalah ajakan pada perempuan agar peduli terhadap masalah yang ada di sekitarnya. Majalah SA mendorong perempuan keluar rumah dan terlibat dalam berbagai persoalan sosial yang terjadi.

“Akhir-akhir ini merupakan melek zaman, artinya sudah berganti menjadi pertarungan pemikiran, perdebatan. Kita masuk pada hiperrealitas, persoalan post truth, manusia lebih percaya apa yang diyakini bukan fakta yang ada. Suara Aisyiyah harus ikuti perkembangan zaman itu. Dunia sudah berubah, maka kita harus berubah,” kata Adib seperti dikutip VOA Indonesia tahun lalu.

Untuk mengikuti perkembangan zaman, Majalah SA merambah daring dengan penyediaan aplikasi melalui Playstore pada tahun lalu. Langkah itu ditempuh untuk menjawab aspirasi pembaca yang ingin memperoleh bacaan lebih cepat dan mudah.

Meski demikian, edisi cetak tetap dipertahankan. Itu dilakukan atas pertimbangan sebagian pembaca perempuan yang tetap lebih nyaman dengan edisi cetak.

Majalah SA jelas bukan media pertama yang didedikasikan untuk memberdayakan perempuan. Sebelumnya ada beberapa media, seperti Majalah Insulinde (terbit pada 1901) dan Surat Kabar Poetri Hindia (terbit pada 1908). Namun, Majalah SA mungkin satu-satunya media perempuan pelopor di Indonesia yang tetap bertahan sampai sekarang dan mengikuti zaman. (Irw/Rio)