TEMPO JURU BICARA ANIES BASWEDAN?

115

Jakarta, CSW – Pada 21 Maret lalu, kami dari CSW menyajikan video tentang bagaimana Tempo memberitakan MotoGP di Mandalika. Itu kemudian mendorong kami untuk melakukan hal serupa, dengan objek berbeda. Kami jadi tertarik untuk mempelajari bagaimana Tempo memberitakan Anies Baswedan. Ini menarik karena selama ini ada tuduhan bahwa Tempo anti Jokowi dan pendukung Anies.

Kami ingin tahu, apakah dugaan itu terlihat dalam pemberitaan mereka? Ini penting karena Tempo adalah sebuah media yang dikenal berkualitas. Tempo dianggap kritis dan independen. Di sisi lain, Anies adalah salah seorang calon terkuat menuju Pilpres 2024. Kalau Tempo menjadi media propaganda Anies, masyarakat bisa saja memperoleh gambaran hanya satu sisi.

Masyarakat bisa saja akan hanya melihat keunggulan Anies. Dan masyarakat percaya dengan apa kata Tempo, karena Tempo bisa dipercaya. Sekarang, akan kami akan share kembali hasil pengamatan kami. Memang untuk sementara, kami menganalisis pemberitaan Anies dalam periode relatif singkat. Tapi dari situ, kami sudah bisa menangkap kesan bahwa Tempo memang cenderung pro Anies. Bahkan, Tempo terkesan seperti public relation atau juru bicara Anies.

Yang kami teliti hanya tempo.co. Mungkin Majalah Tempo dan Koran Tempo akan kami teliti sesudah ini. Metode pencarian kami di tempo.co sederhana. Kami mengetik kata kunci ‘tempo.co’, ‘berita hari ini’, dan ‘anies baswedan’. Kami kemudian dibawa ke website tempo.co. Di sana Tempo menampilkan berita-berita di bawah topik ‘anies baswedan’. Kami mempelajari berita-berita tentang Anies dari tanggal 9 sampai 21 Maret 2022.

Periode itu yang kami pilih karena itulah yang tersaji di halaman hasil pencarian., Ternyata, seperti saya katakan, Tempo nampak menajdi humas Anies. Pertama, Tempo menggambarkan Anies sebagai sosok pemimpin yang positif. Kedua, Tempo mempromosikan kebijakan Anies. Ketiga, Tempo membela Anies ketika mendapat kritik. Selama hampir dua minggu, sedikit sekali berita negatif tentang Anies. Sangat kuat kesan bahwa Tempo memang mendukung Anies. Sebagai contoh, kami tampilkan berita pada 21 Maret.

Berita yang dimuat di urutan teratas berita tempo.co itu memuat pendapat Pengurus Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) dan Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI). Mereka membantah pandangan bahwa Anies intoleran. Buktinya, gereja di Jakarta memperoleh Bantuan Operasional Tempat Ibadah atau BOTI. Bantuan itu sangat bermanfaat bagi pendeta dan guru. Mereka juga mengatakan Anies adalah sosok nasionalis.

Anies juga digambarkan sebagai pemimpin yang sangat pluralis dan menjaga kerukunan umat beragama. Berita semacam ini sangat menguntungkan citra Anies. Anies selama ini dianggap tidak nasionalis karena kasus Pilgub Jakarta 2017 lalu. Dia saat itu menang karena menggunakan politik SARA. Jadi, kalau sekarang ada persekutuan gereja yang memuji Anies, ini tentu bisa membantu mengubah imej Anies. Masalahnya, berita ini hanya satu sisi.

Tempo tidak memuat pendapat pemuka gereja lain. Karena itu wajar bila Anies terlihat sebagai pemimpin yang toleran, nasionalis, dan pluralis. Upaya Tempo mempromosikan Anies terlihat jelas juga dalam pemberitaan MotoGP di Mandalika. Tempo nampak mengikuti terus perjalanan Anies selama menghadiri gelar MotoGP. Ada enam berita tentang Anies di Mandalika. Sebagai perbandingan, kehadiran Ganjar di Mandalika hanya diberitakan satu kali dan Ridwan Kamil satu kali.

Tempo jelas sekali berusaha menggambarkan Anies sangat mendukung MotoGP dan dekat dengan masyarakat. Anies memuji MotoGP. Dia duduk di tribun, bertemu langsung dengan masyarakat. Tempo secara terperinci menggambarkan bahwa Anies berjalan kaki menuju tribun penonton. Sampai di tribun, Anies menyapa para penonton dengan melambai-lambaikan tangan. Anies kemudian menghampiri penonton dan mengajak mereka bicara. Tak lupa, Anies mendatangi kursi penonton lain, duduk di tengah-tengah mereka, lalu berselfie.

Sebagai perbandingan, Pak Jokowi digambarkan duduk di kelas VVIP. Pokoknya Anies sangat merakyat dan bersahabat. So sweet. Pemberitaan Anies sebelum Mandalika juga sangat positif. Berita-berita di bawah ini jelas mempromosikan Anies. Tahun ini Anies memberikan hibah hampir Rp 540 miliar untuk Guru Honorer Swasta dan PAUD. Anies meresmikan beroperasinya 30 bus listrik yang menekan polusi, nyaman, dan tidak bising.

Anies menambahkan satu jalur sepeda pada akhir pekan di jalan Sudirman Thamrin. Anies meresmikan Jembatan Penyebarangan Orang di Sudirman yang ramah sepeda dan punya sensor penghitung orang. Anies juga mengajak investor dunia tanam modal karena Jakarta adalah kota penuh peluang. Pokoknya Jakarta penuh kemajuan. Bahkan berita-berita yang semula berpotensi merusak imej Anies, bisa dibelokkan.

Salah satunya adalah berita bahwa Anies membawa tanah dari Kampung Akuarium untuk mengisi kendi nusantara di Ibu Kota Negara. Ini menjadi heboh, karena Kampung Akuarium adalah daerah yang dulu digusur Gubernur Ahok. Anies dianggap menghina Pak Jokowi. Tapi kemudian, Tempo memberitakan bahwa tanah yang dikirim Anies berasal dari enam tempat ibadah berbeda di jakarta. Itu merupakan bukti kerukunan di Jakarta, tulis Tempo, mengutip Wakil Gubenur Jakarta. Soal pengerukan kali mampang pun diberitakan dengan cara yang positif. Tempo memberitakan Anies batal naik banding terhahadp keputusan PTUN agar Pemprov DKI melanjutkan pengerukan kali Mampang.

Pembatalan itu dilakukan karena pemprov sudah melakukan pengerukan. Tempo juga memberitakan pernyataan warga bahwa banjir akibat Kali Mampang sudah tidak terjadi lagi. Kasus lain adalah soal diangkatnya Sudirman Said menjadi Komisaris Utama Trans Jakarta. Mula-mula Tempo memuat pertanyaan dari PDIP yang menuduh Sudirman diangkat karena kedekatannya dengan Anies. Tapi dalam pemberitaan berikutnya, tuduhan itu langsung ditepis. Sudirman digambarkan sebagai sosok professional yang bisa mengatasi persoalan transportasi umum Jakarta.

Itu semua adalah hasil pengamatan kami di CSW. Dari gambaran itu, memang sulit untuk membantah bahawa tempo.co cenderung menjadi juru bicara Anies Baswedan. Tentu sangat disayangkan. Masyarakat butuh informasi yang benar, jujur, dan objektif.