Yahya Waloni, Muhammad Kace, dan Kasus “Salah Tempat”

239
foto dok. Trendingnews

Jakarta, CSW – Ada dua kasus penangkapan “penceramah agama” yang menarik perhatian publik akhir-akhir ini, yaitu penangkapan terhadap Yahya Waloni dan Muhammad Kace. Keduanya ditangkap terkait dengan ucapan atau ceramahnya yang beredar di media sosial, yang dinilai meresahkan masyarakat, bahkan memicu kemarahan.

Banyak pernyataan keduanya yang “kontroversial” dan bikin heboh di medsos. Keduanya saat ini masih diproses secara hukum. Mungkin keduanya akan dikenai pasal “penistaan agama” atau penyebaran kebencian berbasis SARA (suku, agama, ras dan antargolongan).

Pernyataan keduanya berkaitan dengan status bahwa keduanya adalah orang yang pernah berpindah agama (convert), yang lalu berbicara negatif tentang ajaran agama sebelumnya, yang pernah dianutnya. Waloni, yang mengaku pernah jadi pendeta, berpindah agama dari Kristen ke Islam. Sedangkan Kace berpindah agama dari Islam ke Kristen.

Kace adalah YouTuber yang dalam berbagai pernyataannya yang tersebar di medsos mengutarakan hal-hal kontroversial, terkait ajaran dan kepercayaan Islam serta Nabi Muhammad SAW. Sedangkan Waloni mengutarakan hal-hal yang juga menimbulkan heboh dan silang sengketa, tentang ajaran dan kitab suci umat Kristen.

Di mana sebetulnya letak persoalan kita, terkait kasus Waloni dan Kace? Menurut saya, ucapan Waloni dan Kace itu menjadi sumber kehebohan karena “salah tempat.” Ceramah mereka seharusnya hanya dikonsumsi untuk audiens yang sangat terbatas atau tertutup, bukan untuk dikonsumsi secara umum untuk publik. Apalagi dengan cara disebar di medsos.

Dampak Media Sosial

Jika ceramah mereka cuma didengar untuk audiens yang terbatas di lingkungan sendiri dan tertutup, tidak akan jadi masalah. Namun, baik Waloni maupun Kace tampaknya tidak terlalu peduli soal “salah tempat” tersebut. Mungkin, keduanya bahkan “menikmati” penyebaran ucapan mereka di medsos, karena bisa meningkatkan popularitas dan ”menaikkan rating.”

Ketika seseorang beragama A lalu mengalami transformasi keyakinan/iman dan pindah ke agama B, itu sebetulnya fenomena biasa. Itu sesuatu yang sangat personal, dan tidak ada yang aneh. Namun, ketika dia lalu berceramah dengan menjelek-jelekkan agama lamanya dan kemudian ceramah itu tersebar atau sengaja disebar di ruang publik, tentu akan ada dampak sosialnya.

Kalau ada seorang penganut Kristen masuk agama Islam. Ia lalu ceramah secara terbuka, yang tersebar atau disebar di medsos, dan ia bilang bahwa kitab suci Kristen itu “palsu” atau “fiktif.” Ya pastinya banyak penganut Kristen yang akan tersinggung atau marah.

Sama halnya, seperti orang Islam yang pindah ke Kristen, terus dia ceramah terbuka di medsos dan bilang bahwa Quran itu bukan kalam Allah tapi ciptaan manusia. Ya sudah pasti banyak orang Islam akan marah-marah. Tidak perlu jadi seorang jenius untuk memahami hal ini. Ini sekadar contoh saja.

Mengapa  bisa terjadi fenomena seperti ini? Apakah Waloni dan Kace itu bodoh? Atau apakah mereka memang sengaja memprovokasi publik untuk mengejar sensasi, popularitas, atau mencari perhatian? Saya tidak tahu. Saya hanya bisa menduga-duga.

Kurang Empati ke Umat Lain

Namun, dalam perspektif ekonomi, ceramah agama memang –faktanya— bisa jadi sumber penghasilan yang lumayan. Apalagi jika si penceramah agama sudah mencapai popularitas yang sangat tinggi.

Mereka tak ubahnya artis yang jadi rebutan, yang sibuk memenuhi undangan ke sana-sini untuk “manggung.”  Bahkan, ada penceramah agama yang sudah terkenal, yang menetapkan tarif tertentu. Jika di bawah tarif tersebut, dia tak mau kasih ceramah.

Tetapi ceramah agama tidak sama dengan menyanyi atau main band. Ini menyangkut iman atau kepercayaan, yang diyakini sebagai kebenaran oleh pemeluknya. Ada nilai-nilai teladan yang diajarkan. Dan salah satunya adalah nilai toleransi dan empati kepada orang lain.

Penceramah agama yang berteriak-teriak di publik, mengolok-olok ajaran agama lain, itu menunjukkan bahwa dia tidak punya empati. Dia tidak memikirkan perasaan umat beragama lain.

Ini tipe orang yang egois, asyik dengan dirinya sendiri. Merasa paling benar sendiri. Dan karena merasa paling benar, dia beranggapan  adalah haknya sepenuhnya untuk “menyuarakan kebenaran” di publik (kebenaran menurut versinya sendiri).

Tetapi, jika dia kemudian terkena masalah atau dituntut secara hukum, karena ucapannya di publik yang seenaknya itu, dia lalu playing victim. Dia lalu berteriak-teriak bahwa dirinya dizholimi. Bahwa hukum tidak adil, dan sebagainya.

Kasus Waloni dan Kace hanyalah contoh ketidakmampuan “penceramah agama” dalam memilah, mana materi yang layak disampaikan di publik dan mana materi yang seharusnya untuk konsumsi privat atau internal terbatas.

Tetapi sebagian penceramah agama dan sebagian kalangan masyarakat kita tampaknya masih dalam tahap belajar. Mereka belum cukup bijak untuk memilah, mana materi yang seharusnya hanya untuk konsumsi internal dan mana yang pas untuk konsumsi publik.