YANG BIKIN MALU INDONESIA DI PARIS

63

Jakarta, CSW – Berita tentang kemunculan brand, designer dan model Indonesia di ajang fashion Paris ternyata bikin heboh. Sayangnya tidak dalam nada positif. Nama Indonesia dianggap tercoreng dan dipermalukan. Bahkan ada yang menganggap ini penipuan publik. Dan ini semua bermula dari inisiatif sebuah gerakan kreatif masyarakat.

Mereka menyebut diri mereka Gekrafs, alias Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional. Semula apa yang mereka lakukan dipuji. Mereka nampak sedang berusaha menjadikan industry kreatif Indonesia go international. Tapi belakangan imej itu berubah. Mereka dituduh membohongi masyarakat seolah-olah Indonesia tampil di ajang fashion kelas dunia. Dan mereka dituduh melakukannya untuk cari cuan.
Bagi yang tidak mengikuti, begini ceritanya.

Ini terkait dengan Paris Fashion Week. PFW adalah salah satu ajang pangelaran fashion dunia paling terkemuka di dunia. Tiga lainnya adalah adalah fashion week di New York, London dan Milan. PFW diselenggarakan oleh Federasi Fashion Prancis. Sekitar awal tahun ini beredar berita bahwa tahun ini akan ada 10 brand fashion Indonesia yang akan tampil di Paris. Ini menjadi membanggakan karena PWF sangat selektif.

Yang bisa tampil hanyalah brand-brand yang sudah dikurasi oleh panitia Hampir semua brand global hadir Di luar itu ada juga brand-brand baru yang dinilai kualitas sejajar dengan yang sudah terkenal Jadi kalau sekarang ada 10 brand Indonesia muncul di acara itu, artinya industry fashion Indonesia sudah berkelas dunia. Kesepuluh brand itu membawa artis-artis terkenal Indonesia. Ada Ariel Noah, Anya Geraldine, Adipati Dolken, Reza Arap, Weny Walters, Keanu Angelo, Canti Tachril dan Tyna Dwi Jayanti

Para influencer ini kemudian diwajibkan menyebarkan kisah perjalanan mereka melalui instagramd an tiktok. Maka menyebarlah foto-foto artis Indonesia yang sedang berada di Paris. Sebagian jelas-jelas menulis sedang mengikuti Paris Fashion Week. Semula publik menyangka industry fashion kita memang sedang naik kelas. Apalagi Gekraf menyebut secara resmi bahwa perjalanan ke PFW ini didukung oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Bahkan Sandiaga Uno hadir di konferensi pers Gekraf menjelang keberangkatan ke Paris.

Jadi, kesannya terpercaya. Tapi kemudian muncullah Wanda Hamidah. Dia bikin ramai melalui pernyataan di IG. Dia rupanya memperoleh proposal penwawaran bagi brand untuk ikut ke Paris. Wanda bilang, acara yang akan diikuti bukanlah Paris Fashion Week. Dan untuk bisa ikut, sebuah brand harus bayar Rp 500 juta. Benefit yang ditawarkan: 30 model, make up, runway, red carpet hingga dokumentasi. Dengan sinis Wanda menulis : “500 juta saudara-saudara, tanpa kurasi. Kamu punya duit, bisa ikut.” Dengan segera pernyataan Wanda diikuti komentar lain,

Misalnya saja Lucky Heng, yang juga pemilik brand fashion. Dengan sebel dia bilang dia bicara bukan karena iri. Tapi dia sebel karena netizen dibodoh-bodohi, dimainkan perasaan dan harapannya, di misled oleh informasi tentang Indonesia di PFW ini. Lucky menyatakan hanya ada satu PWF, dan nama-nama yang muncul sudah tercatat di situs resmi PWF. Lucky menjelaskan bahwa memang ada banyak media dan agensi yang memperjualbelikan slot tayang seolah-olah itu bagian dari kalender asli PWF. Mereka menawarkan jadwal palsu dengan mengatasnamakan PFW.

Dan slot tayang itulah yang menjadi ajang pagelaran brand Indonesia. Gara-gara itulah, kisah sesungguhnya terbongkar. Acara yang diiikuti rombongan Indonesia ternyata adalah Paris Fashion Show during Paris Fashion Week. Jadwalnya sama, tapi lokasinya berbeda. Jadi acara ini dilakukan untuk nebeng popularitas PFW. Kan publik pemerhati mode sedang kumpul di Paris. Karena itulah Paris Fashion Show diadakan bersamaan. Syukur-syukur ada yang tertarik dengan Indonesia. Pemrakarsa acara ini sendiri adalah sebuah agensi di Prancis bernama Fashion Division.

FD melihat ada banyak brand yang tidak lolos seleksi untuk ikut PFW. Karena itulah mereka menyelenggarakan acara-acara pertunjukan fashion independen di Paris, di saat yang sama. Tawaran inilah yang disambut Gekrafs. Ketua Komite Gekrafs Temi Sumarlin mengakui itu. Menurutnya, acara Paris Fashion Show dibuat untuk memperkenalkan dan membuka peluang kerjasama bagi brand Indonesia dengan pihak asing. Tidak sembarang brand Indonesia bisa ikut, katanya.

Hanya yang dianggap bisa menarik pembeli di dunia internasional, yang dilibatkan. Temi juga menyatakan praktek semacam ini sudah sering dilakukan. Dia bilang, event semacam ini sudah dilakukan setiap tahun. Kenapa sekarang Gekrafs yang diserang dan dipermasalahkan? Humas Gekrafs sendiri, Ivan Seventeen, menganggap keributan ini terjadi karena para artis yang ikut tidak bisa menahan diri. Brand lokal dan para influencer yang ikut sudah diingatkan untuk tidak menggunakan logi PFW. Masalahnya, kata Ivan, pada influencer Indonesia itu tidak patuh pada SOP.

Mereka tetap menggunakan kalimat ikut hadir di Paris Fashion Week. Karena itu ditulis di IG mereka, publik jadinya menyangka bahwa mereka memang diundang untuk ikut PFW Lucunya, Ivan tetap membela penggunaan kata Paris Fashion Week. Menurutnya, kalaupun ada brand, designer ataupun artis yang menyebut PFW, itu tidak salah. Yang salah adalah kalau sampai menggunakan logo PFW.

Tapi benarkah apa yang dikatakan Temi Sumarlin bahwa hal semacam itu sudah biasa dilakukan? Sebetulnya sebelum Paris,ada juga pagelaran fashion di New York. Di saat berlangsung New York Fashion Week di Februari, diselenggarakan pula New York Indonesian Fashion Week. Sembilan nama desainer Indonesia tampil di sana. Acara diadakan di pusat bisnis New York, Wall Street. Tapi hadirinnya bukanlah pemerhati mode dunia.

Yang hadir adalah Konsulat Jenderal RI di New York, Konsulat Jenderal Singapura, Malaysia, India, Thailand, serta majalah fashion. Hanya saja penyelenggaranya tidak berusaha menipu. Tidak ada pernyataan bahwa itu adalah acara New York Fashion Week Menariknya, Di New York Fashion Week tahun lalu, juga ada berita bahwa sejumlah selebritis Indonesia hadir untuk menyaksikan pagelaran tersebut. Jadi kalimat yang digunakan adalah ‘mereka hadir di New York Fahsion Week’ Namun mereka tidak bilang ikut memperagakan produk fashion.

Di situ ada Luna Maya, Rachel Venya, Enzy Storia, Ayla Dimitri, Alika Islamadina, dan Febby Rastanty. Mereka juga menampilkan foto-foto perjalanan mereka di IG. Juga dengan pose bergaya model. Memang bisa saja sebagian publik menyangka bahwa mereka ikut dalam peragaan fashion. Tapi itu kan cuma kesan. Buat kami, apa yang terjadi ini memprihatinkan. Kita tentu berharap ekonomi kreatif Indonesia tumbuh dan diterima dunia internasional. Tapi masak sih harus dengan cara tipu-tipu? Maju terus, desainer dan brand Indonesia.