PSSI DAN HANTU SUAP YANG MENGANCAM TIMNAS INDONESIA

-

Jakarta, CSW – Penampilan tim nasional sepakbola di Piala AFF membuat bangga. Memang kalah di final, tapi perjuangan kaum muda Indonesia memang layak dirayakan. Apalagi mayoritas pemainnya masih di bawah 23 tahun.

Perjalanan masih panjang. Saya sendiri bukan pecinta sepakbola. Namun saya bisa merasakan euphoria masyarakat ketika Indonesia mengalahkan satu per satu lawannya. Sepakbola mempersatukan bangsa. Karena itulah, kita semua berharap timnas Indonesia ini akan semakin cemerlang.

Mudah-mudahan tim kita bisa bersinar bukan cuma di Asia Tenggara, tapi juga di dunia. Namun di balik rasa optimis itu, kami di CSW juga harus mengingatkan. Masa depan sepakbola Indonesia ini sangat bergantung pada Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia, atau PSSI. PSSI bukan pemerintah.

PSSI adalah organisasi bentukan masyarakat. Namun PSSI adalah satu-satunya organisasi yang diakui dan diterima federasi Sepakbola Internasional, FIFA. Pengelolaan dan pembinaan sepakbola Indonesia sangat ditentukan oleh PSSI. Karena itulah, kita harus menuntut PSSI bekerja serius mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi sepakbola Indonesia.

Salah satu yang paling utama adalah soal suap. Soal pengaturan skor. Ini adalah kanker yang diidap sepakbola Indonesia selama puluhan tahun. Dan sampai sekarang tidak pernah ada upaya penyembuhan menyeluruh. Padahal kalau suap terus hidup, sepakbola Indonesia tidak akan pernah maju. Sampai saat ini, masih ada kasus-kasus suap yang mencuat. Bahkan pada Oktober lalu, terbongkar kasus dugaan suap di Liga divisi 3 Jawa Timur Yang menyedihkan, saksi kunci dari kasus dugaan pengaturan skor itu menjadi korban tabrak lari.

Saksi kunci itu merupakan bendahara tim Gresik Putra. Dia ditabrak ketika hendak berangkat memenuhi panggilan Polda Jawa Timur. Menurut penjelasan saksi kepada polisi, ia diiming-imingi uang Rp 70 – Rp 100 juta bila Gresik Putra bersedia mengalah dari tim-tim lawan, termasuk Persema Malang.

Berikutnya, pada November, pelatih dan lima pemain Perserang Serang diduga terlibat dalam pengaturan skor melawan beberapa tim di Liga 2. Salah satu tim yang disebut-sebut terlibat adalah Rans Cilegon, milik artis terkenal Raffi Ahmad. Tim Raffi Ahmad ini bermain 0-0 melawan Perserang dalam pertarungan yang diduga sudah diatur skornya.

Usai kasus tersebut terungkap, lima pemain Perserang tersebut dijatuhi hukuman berat. Itu adalah kasus-kasus yang terungkap di liga lebih rendah. Tapi di liga utama pun kasus serupa bukannya tidak terjadi. Acara televisi Mata Najwa menampilkan seorang wasit yang bercerita bahwa penyuapan dan pengaturan skor juga terjadi di Liga 1.

Menurut si wasit, sudah ada instruksi yang harus dijalankan untuk memenangkan salah satu tim sebelum pertandingan dimulai. Uang suap bisa sangat besar, bisa ratusan juta rupiah. Semakin tinggi level pertandingannya, semakin besar uang suapnya. Dalam acara Najwa itu, identitas wasit itu dirahasiakan.

Ketika PSSI meminta nama sang wasit, Najwa menolak karena risiko yang harus dihadapi si pembocor rahasia itu. Satu lagi kasus yang juga ramai dibicarakan adalah dugaan pengaturan skor di Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua 2021. Dugaan pengaturan skor terjadi dalam antara Kalimantan Timur dan Aceh.

Pada pertandingan tersebut, Aceh menang tipis dengan skor 3-2 melalui gol bunuh diri pemain Kaltim, M. Rizky Ramadhan, pada menit ke-70. Dugaan bahwa ada pengaturan skor mencuat karena Rizky kelihatan seperti sengaja menendang bola ke gawangnya sendiri. Yang jelas karena Aceh menang 3-2, kedua tim lolos ke babak berikutnya dan menyisihkan Sulawesi Utara.

Jadi nampaknya judi bola masih hidup di Indonesia. Dan kalau ini terus terjadi jangan harapkan sepakbola bisa berkembang. Yang menjadi sasaran suap bisa saja wasit, pelatih ataupun pemain. Dan tidak perlu semua pemain disuap.

Bisa saja cuma pelatih atau beberapa pemain saja yang diatur bandar suap. Dan yang diatur pun tidak satu macam. Misalnya saja yang diatur adalah siapa yang menang dan siapa yang kalah. Atau berapa skor akhir? Atau berapa selisih gol?Ini semua tergantung pada apa yang jadi taruhan di bandar judi. Para pemain yang professional akan kehilangan tekad untuk bermain sebaik-

baiknya. Mereka akan berpikir buat apa bermain serius kalau sejak awal skor akhir sudah ditentukan? Atau akan banyak pemain yang memilih untuk mencari uang dengan cara menerima suap daripada mati-matian menjadi juara. Memang ada kesan bahwa hantu suap ini lebih terasa di liga-liga lebih rendah.

Gaji para pelatih dan pemain tim papan bawah itu ini kan memang relatif kecil. Jadi lebih mudah disuap. Tapi ini tidak berarti di level yang lebih tinggi suap tidak terjadi. Termasuk pada tim nasional. Kalau Piala AFF yang baru usai sih nampaknya tidak ada pertandingan mencurigakan. Kabarnya di Piala AFF baik panitia maupun timnas kita sangat berhati-hati.

Para pemain tidak bisa dihubungi pihak manapun. Alat komunikasi disita. Tidak boleh ada pihak luar masuk ke tempat latihan ataupun ruang ganti. Jadi kemungkinan besar, timnas Indonesia kemarin bebas dari pengaturan skor. Tapi itu tidak berarti hantu suap bisa diabaikan . Penggemar sepakbola mungkin masih ingat tentang dugaan suap pada Piala AFF 2010.

Ketika itu Indonesia sedang kuat-kuatnya.Mereka masuk final untuk berhadapan dengan Malaysia. Di babak penyisihan, Indonesia sudah membantai Malaysia 5-1. Tapi tiba-tiba saja di final, Indonesia bermain buruk. Kita kalah 0-3 di Kuala Lumpur. Namun penonton menyaksikan bagaimana gol-gol terjadi akibat kesalahan fatal pemain belakang Indonesia.

Di Jakarta, pada pertandingan kedua, Indonesia menang 2-1. Namun tentu saja itu tidak menyelamatkan Indonesia. Ketika itulah kemudian merebak dugaan bahwa Indonesia kalah karena disuap. Apalagi kemudian beredar surat kaleng yang ditulis seorang pegawai Dirjen Pajak. Dalam surat yang ditujukan pada Presiden SBY itu, dibeberkan adanya kerjasama Bandar judi Malaysia dengan dua petinggi penting di PSSI.

Menurut surat itu, dari kekalahan tim Indonesia, dua oknum PSSI ini meraup untung puluhan miliar rupiah. Sampai sekarang itu tidak bisa dibuktikan. Para pemain Indonesia ketika itu juga membantah. Namun dugaan bahwa Indonesia pada 2010 gagal karena suap sampai sekarang masih kuat. PSSI sendiri berusaha menunjukkan bahwa mereka berusaha melawan mafia jahat tersebut. Salah satu langkah yang coba dimulai adalah dengan membentuk Satgas Anti-Mafia Bola.

Namun satgas yang dibentuk berkat kerja sama dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polri), nyatanya tidak banyak terdengar. Masalahnya yang dihadapi memang adalah Bandar judi bola raksasa. Di Indonesia juga ada Bandar judi, namun yang terbesar kabarnya adalah di Singapura dan Kamboja. Merekalah yang berusaha mengatur skor-skor di berbagai kompetisi di seluruh Asia.

Tapi ini bukan hanya gejala di Indonesia dan Asia. Di level sepakbola Eropa pun terjadi. Yang paling mengejutkan dunia adalah skandal suap di Italia pada 2006. Sejumlah klub besar diketahui mengatur hasil pertandingan. Gara-gara skandal ini, Juventus yang menjadi juara Italia harus turun ke seri B dan kehilangan mahkotanya.

Klub terkenal AC Milan dan beberapa klub lain beruntung karena hanya mengalami pengurangan poin. Dengan latar belakang itu, kita harus sadar beratnya tantangan yang harus dihadapi sepakbola nasional. Karena itulah kita berharap PSSI bisa menjadi penyelamat sepakbola Indonesia. Saat ini PSSI dipimpin oleh mantan pejabat tinggi kepolisian, Mohamad Iriawan. Bila Ketum PSSI ini bisa memimpin dengan langkah yang tegas, berdisiplin dan tidak berkompromi, mafia suap ini akan bisa dihabisi. Dan hanya kalau itu dilakukan, kejayaan sepakbola nasional bisa diwujudkan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru

Peran Ikatan Dokter Indonesia Terancam Ruu Kesehatan Baru?

Jakarta, CSW - Saat ini nih, DPR sedang membahas Rencana Undang Undang Kesehatan Nasional Omnibus Law. Kalau ini gol,...

Misi Kemanusiaan Gereja Di Cianjur Kok Dituduh Kristenisasi

Jakarta, CSW - Ada berita memprihatinkan nih dari Cianjur. Daerah ini kan baru saja kena gempa yang menewaskan sekitar...

Muhammadiyah: Kekuatan Pro Atau Anti Radikalisme?

Jakarta, CSW - Di awal video ini, saya mewakili Civil Society Watch, ingin menyampaikan selamat kepada Muhammadiyah. Muhammadiyah baru...

Tempo Bilang KTT G20 Gagal, Media Asing Bilang KTT G20 Berhasil

Jakarta, CSW - Mengejutkan yaa. Cara majalah Tempo menggambarkan KTT G20 ini menurut saya. Apalagi kalau dibandingkan dengan pemberitaan...
spot_imgspot_img

Ketika Amoi Singkawang Difitnah Pekerja Seks Komersial

Jakarta, CSW - Kali ini saya akan bicara tentang Singkawang dan bagaimana media memberitakannya secara tidak akurat sampai merugikan...

Green Peace Batal Bikin Aksi di KTT G20 Bali

Jakarta, CSW - Ada kabar LSM Greenpeace Indonesia batal bikin kampanye di Bali pada saat Konferensi Tingkat Tinggi atau...

Bacaan Menarik

Peran Ikatan Dokter Indonesia Terancam Ruu Kesehatan Baru?

Jakarta, CSW - Saat ini nih, DPR sedang membahas...

Misi Kemanusiaan Gereja Di Cianjur Kok Dituduh Kristenisasi

Jakarta, CSW - Ada berita memprihatinkan nih dari Cianjur....

Civil Society Watch

Anda bisa kirimkan aduan Anda di sini